LITHUANIA — Jet tempur Italia yang tergabung dalam misi pertahanan udara NATO menembak jatuh sebuah drone bermuatan bahan peledak yang memasuki wilayah udara Lithuania dari arah Belarus pada Selasa (15/9/2026) dini hari.
Dilansir dari Reuters, otoritas pertahanan setempat saat ini tengah melakukan investigasi menyeluruh terhadap puing-puing drone yang jatuh di dekat Desa Pratkunai untuk memastikan negara asal serta pihak yang mengoperasikannya.
Menteri Pertahanan Lithuania, Robertas Kaunas, menyatakan bahwa pemerintah belum dapat menyimpulkan keterlibatan Rusia dalam insiden tersebut sebelum hasil forensik selesai.
“Setelah puing-puing drone diperiksa, barulah kami dapat mengatakan dengan jelas apakah ini drone Rusia dan kemungkinan sebuah provokasi, atau drone negara lain,” kata Kaunas.
Menteri Pertahanan Italia, Guido Crosetto, memberikan penilaian awal bahwa ancaman tersebut kemungkinan besar berasal dari pihak Rusia.
“Semalam, sekali lagi, pilot-pilot Italia melakukan intervensi dan menembak jatuh ancaman yang kemungkinan besar berasal dari Rusia,” kata Crosetto di Pangkalan Udara Siauliai.
Pihak Rusia hingga saat ini belum memberikan pernyataan resmi atau komentar terkait insiden penembakan drone di wilayah udara Baltik tersebut.
Pesawat yang melakukan intersepsi tersebut adalah unit Eurofighter Typhoon milik Italia yang sedang menjalankan tugas rutin pengamanan ruang udara Baltik di bawah komando NATO.
Negara-negara Baltik seperti Lithuania, Latvia, dan Estonia mengandalkan rotasi pesawat tempur sekutu karena keterbatasan kemampuan kekuatan udara domestik mereka.
Crosetto menegaskan bahwa tindakan tegas pilotnya merupakan bukti nyata komitmen Italia terhadap aliansi Atlantik.
“Kehadiran pesawat Italia di sini merupakan demonstrasi yang jelas mengenai nilai aliansi Atlantik bagi Italia dan apa artinya menjadi sekutu,” ujar Crosetto.
Rekaman visual dari militer Lithuania menunjukkan serpihan drone yang tersebar di area rerumputan dengan beberapa bagian material kayu yang hangus terbakar.
Pemerintah Lithuania bersikap hati-hati karena sebelumnya terdapat insiden drone Ukraina yang tersesat memasuki wilayah Baltik akibat gangguan sinyal.
Data menunjukkan bahwa jet NATO sebelumnya pernah menembak jatuh drone Ukraina di Estonia pada Mei serta di Latvia pada Juni dan Agustus.
Insiden di Lithuania terjadi berdekatan dengan peristiwa provokasi di Laut Baltik di mana kapal perang Rusia menembakkan suar ke arah helikopter Denmark.
Pemerintah Denmark telah memanggil duta besar Rusia sebagai bentuk protes atas tindakan yang dinilai berbahaya dan tidak dapat diterima tersebut.
Presiden Komisi Eropa, Ursula von der Leyen, mengategorikan rangkaian insiden keamanan ini sebagai pola provokasi yang dilakukan Rusia terhadap wilayah anggota NATO.
Ketegangan regional juga dipicu oleh serangan drone Rusia terhadap kereta penumpang di Ukraina dekat perbatasan Polandia yang sempat ditumpangi delegasi internasional.
Sekretaris Jenderal NATO, Mark Rutte, menyatakan bahwa aksi tersebut mencerminkan keputusasaan Rusia dalam menebarkan teror di kawasan tersebut.
“Serangan kemarin terhadap kereta di Ukraina dekat wilayah NATO kembali menunjukkan keputusasaan Putin dan juga keinginannya menebarkan ketakutan dan teror,” kata Rutte.
Risiko salah perhitungan semakin meningkat seiring dengan semakin tipisnya jarak geografis antara area konflik Ukraina dan perbatasan negara anggota NATO.
Meskipun drone tersebut berhasil dihancurkan, tidak ada pengaktifan Pasal 4 atau Pasal 5 Perjanjian Atlantik Utara yang dilaporkan terkait insiden ini.
Hasil pemeriksaan forensik terhadap puing drone akan menjadi penentu apakah insiden ini merupakan bentuk agresi sengaja atau sekadar kesalahan operasional di tengah perang.






