Asia Tenggara mencatatkan lonjakan investasi pada sektor robotika sebesar 13,4 kali lipat sepanjang tahun berjalan, Jumat (11/9/2026), yang didominasi oleh aliran pendanaan masif ke perusahaan-perusahaan berbasis di Singapura.
Dilansir dari laporan Robotics – SEA Report yang dirilis Tracxn Technologies Limited, sektor robotika di kawasan ini telah menghimpun total pendanaan ekuitas kumulatif mencapai US$ 1,1 miliar atau Rp 19,4 triliun sepanjang sejarah industrinya.
Realisasi pendanaan tahun berjalan atau year-to-date mencapai US$ 696 juta atau Rp 12,3 triliun, angka yang menunjukkan peningkatan drastis dibandingkan capaian tahun 2025 yang hanya sebesar US$ 52 juta atau Rp 915,6 miliar.
Fluktuasi pendanaan dalam lima tahun terakhir menunjukkan tren tidak stabil, dengan catatan US$ 10,2 juta pada 2021, US$ 94 juta pada 2022, US$ 19,9 juta pada 2023, dan US$ 36,6 juta pada 2024.
Singapura memantapkan posisinya sebagai pusat utama ekosistem robotika di Asia Tenggara dengan menyerap 91,7% dari total pendanaan kawasan, yakni sebesar US$ 986 juta melalui 58 putaran pendanaan.
Dari total 242 perusahaan robotika yang dilacak oleh Tracxn di Asia Tenggara, sebanyak 108 entitas beroperasi di Singapura, dengan 37 di antaranya telah berhasil mendapatkan pendanaan institusional.
Perusahaan robotika dengan pendanaan terbesar di Singapura mencakup Sharpa, Fourier Intelligence, dan Neptune Robotics.
Sharpa memimpin perolehan modal setelah mendapatkan US$ 670 juta melalui putaran Series D pada Agustus 2026, sebuah nilai yang melampaui total pendanaan tahunan sektor robotika di Asia Tenggara pada periode-periode sebelumnya.
Fourier Intelligence tercatat telah menghimpun dana sebesar US$ 83 juta, sementara Neptune Robotics mengumpulkan US$ 69,5 juta.
Aktivitas pendanaan di luar Singapura terpantau jauh lebih kecil, dengan Malaysia mencatat perolehan US$ 5 juta di Seri Kembangan dan US$ 3,7 juta di Johor Bahru.
Vietnam juga mencatatkan kontribusi pendanaan melalui perusahaan di Chukai sebesar US$ 281 ribu dan Tan Binh sebesar US$ 120 ribu.
Meskipun terjadi lonjakan modal yang signifikan, Tracxn menyatakan bahwa hingga saat ini belum ada perusahaan robotika di Asia Tenggara yang berhasil mencapai status unicorn.
Aktivitas keluar atau exit di sektor ini masih sangat terbatas, dengan hanya satu catatan akuisisi yang melibatkan perusahaan Zimplistic oleh Light Ray Holdings pada Oktober 2020.
Keterbatasan aktivitas exit tersebut mencerminkan kondisi mayoritas perusahaan yang masih berada pada tahap awal pendanaan dan belum mencapai putaran pendanaan tahap lanjut.
Secara keseluruhan, hanya 51 dari 242 perusahaan robotika di Asia Tenggara yang telah menerima pendanaan institusional, atau sekitar 21% dari total populasi yang dilacak.
Data menunjukkan bahwa hanya 22 perusahaan yang telah mencapai Series A atau lebih tinggi, sembilan perusahaan mencapai Series B, lima perusahaan mencapai Series C, dan hanya tiga perusahaan yang telah mencapai Series D atau lebih tinggi.
Perusahaan di sektor ini membutuhkan waktu rata-rata 4,1 tahun sejak pendanaan pertama untuk mencapai Series A, dan rata-rata 5,5 tahun untuk mencapai Series B.







