Ecozone

Wall Street Merosot Usai The Fed Naikkan Suku Bunga Perdana

26
×

Wall Street Merosot Usai The Fed Naikkan Suku Bunga Perdana

Sebarkan artikel ini
Tampilan layar perdagangan saham di bursa Wall Street, New York setelah pengumuman kenaikan suku bunga The Fed.
Bursa Wall Street mengalami penurunan setelah Federal Reserve resmi menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin.

New York – Indeks bursa Wall Street di Amerika Serikat mengalami penurunan pada penutupan perdagangan Kamis (17/9/2026) setelah bank sentral AS, Federal Reserve (The Fed), secara resmi menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi kisaran 3,75%-4%.

Dilansir dari CNBC, ketiga indeks utama Wall Street yakni Dow Jones Industrial Average, S&P 500, dan Nasdaq Composite sempat berada di zona positif sebelum akhirnya berbalik tertekan pasca-pengumuman kebijakan moneter tersebut.

Dow Jones Industrial Average mencatatkan penurunan sebesar 631,21 poin atau 1,21% ke level 51.461,90.

Indeks S&P 500 terkoreksi sebesar 0,45% ke posisi 7.551,81.

Sementara itu, Nasdaq Composite ditutup turun tipis 0,01% pada level 25.978,42.

Kenaikan suku bunga ini menjadi langkah pengetatan pertama yang dilakukan The Fed sejak Juli 2023.

Ketua The Fed, Kevin Warsh, menegaskan bahwa kebijakan tersebut diambil sebagai respons atas tekanan inflasi yang masih persisten di Amerika Serikat.

“Fakta sederhananya adalah inflasi masih terlalu tinggi dan telah berlangsung terlalu lama,” kata Kevin Warsh.

Ia menambahkan bahwa data inflasi selama musim panas ini belum menunjukkan perbaikan tren yang berarti bagi perekonomian Amerika Serikat.

Pasar bereaksi negatif terhadap pernyataan tersebut karena The Fed mengisyaratkan adanya potensi kenaikan suku bunga lanjutan pada tahun ini.

Sentimen negatif ini turut mendorong imbal hasil atau yield US Treasury tenor 10 tahun kembali menembus level psikologis penting di angka 5%.

Chief Market Strategist B. Riley Wealth, Art Hogan, menyatakan bahwa komentar Kevin Warsh yang cenderung hawkish telah memicu kekhawatiran pelaku pasar akan tingginya suku bunga dalam jangka waktu yang lebih lama.

“Pasar saat ini mengambil petunjuk dari yield US Treasury 10 tahun yang kembali naik di atas 5%, yang merupakan level psikologis yang sangat penting,” kata Art Hogan.

Sektor perbankan menjadi salah satu yang paling terdampak, di mana saham Bank of America dan Wells Fargo masing-masing turun hampir 3%.

Saham emiten keuangan lainnya seperti American Express dan Goldman Sachs juga mencatatkan pelemahan sebesar hampir 4%.

Tekanan terhadap pasar saham semakin berat akibat kenaikan harga energi, dengan harga diesel di Amerika Serikat yang sempat menyentuh US$ 6 per galon.

Kondisi pasokan energi global yang terganggu akibat perang di Ukraina dan Iran juga menjaga harga minyak mentah dunia tetap berada di atas level US$ 100 per barel.