Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diproyeksikan berada dalam fase konsolidasi dan berpotensi mengalami tekanan koreksi pada perdagangan Kamis (17/09/2026) setelah bank sentral Amerika Serikat, The Fed, memutuskan untuk menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi kisaran 3,75% hingga 4,00%.
Dilansir dari laporan riset Mirae Asset Sekuritas, kebijakan moneter tersebut menjadi sentimen utama yang memengaruhi dinamika pasar modal domestik karena mencerminkan langkah agresif otoritas moneter Amerika Serikat dalam merespons kondisi ekonomi global terkini.
Senior Teknikal Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, menyatakan bahwa kenaikan suku bunga sebesar 25 bps tersebut pada dasarnya telah diantisipasi oleh pelaku pasar atau bersifat priced in.
“Faktor penentu pada hari ini bukan lagi keputusan kenaikannya, melainkan petunjuk ke depan dari Kevin Warsh dan proyeksi suku bunga berikutnya,” kata Nafan.
Nafan menjelaskan bahwa pasar saat ini tengah mencermati peluang kenaikan suku bunga lanjutan, yang secara inheren memberikan tekanan berkelanjutan terhadap aset berisiko, termasuk pasar saham di Indonesia.
Secara teknikal, IHSG dipetakan memiliki level support pada rentang 6.371 hingga 6.290, sementara level resistance berada pada kisaran 6.566 hingga 6.636.
Dalam terminologi pasar modal, support didefinisikan sebagai area harga yang diyakini sebagai titik terendah di mana minat beli cenderung meningkat untuk menahan penurunan lebih lanjut.
Sebaliknya, resistance merupakan tingkat harga yang dianggap sebagai titik tertinggi, di mana biasanya terjadi aksi jual cukup besar yang menyebabkan laju kenaikan harga tertahan.
Selain kebijakan The Fed, pelaku pasar juga memberikan perhatian khusus pada peluncuran Bursa Mineral dan Komoditas Strategis (Icomex) dengan timah sebagai komoditas perdana.
Implementasi kembali mekanisme short selling yang telah dimulai sejak 15 September juga dinilai sebagai faktor yang dapat meningkatkan aktivitas perdagangan serta likuiditas pasar secara keseluruhan.
Terkait strategi investasi, Nafan merekomendasikan kepada investor untuk mencermati saham PT Vale Indonesia Tbk (INCO), PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA), dan PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA).
Di sisi lain, analis BinaArtha Sekuritas, Ivan Rosanova, memproyeksikan IHSG berpotensi melanjutkan koreksi menuju level support di 6.290.
Proyeksi tersebut didasarkan pada pergerakan IHSG yang tercatat ditutup di bawah garis Simple Moving Average (SMA-20) selama tiga hari berturut-turut.
Untuk strategi portofolio, Ivan merekomendasikan saham PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO), PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI), PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA), serta PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR).
Para pelaku pasar domestik diketahui telah melakukan persiapan matang dalam menghadapi respons IHSG terhadap kebijakan moneter The Fed yang akan berlanjut setelah periode September ini.
Ketidakpastian mengenai arah kebijakan suku bunga global terus menjadi variabel utama yang membatasi pergerakan indeks di tengah sentimen negatif dari pasar eksternal.
Dinamika sektor komoditas dan kebijakan bursa baru diharapkan dapat memberikan katalis positif untuk menyeimbangkan tekanan yang muncul dari kebijakan moneter global.
Investor disarankan untuk tetap memperhatikan fluktuasi level support dan resistance sebagai acuan dalam mengambil keputusan transaksi di tengah volatilitas pasar yang masih tinggi.







