Washington – Bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve (The Fed), memutuskan untuk menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 3,75%-4,00% pada Kamis (17/9/2026) guna merespons laju inflasi yang masih persisten di atas target bank sentral.
Dilansir dari Bloomberg, langkah pengetatan kebijakan moneter ini merupakan kenaikan pertama sejak Juli 2023 dan menandai sinyal agresif bank sentral dalam mengendalikan tekanan harga yang meluas di berbagai sektor ekonomi.
Ketua The Fed, Kevin Warsh, menyatakan bahwa kebijakan ini diperlukan untuk mengembalikan inflasi ke target jangka panjang sebesar 2% yang kini diperkirakan baru akan tercapai pada 2029.
“Kami mengurangi tingkat akomodasi kebijakan agar kondisi keuangan dan kredit lebih sesuai dengan tujuan akhir kami,” kata Kevin Warsh.
“Tindakan hari ini menunjukkan bahwa kami serius menjaga stabilitas harga,” ujar Kevin Warsh.
Kevin Warsh menambahkan bahwa data inflasi selama musim panas belum menunjukkan perbaikan berarti, sehingga pengetatan kebijakan lanjutan dipandang sebagai kebutuhan mendesak.
Kepala Ekonom Amerika Serikat di Morgan Stanley, Michael Gapen, menilai pernyataan tersebut mencerminkan sikap hawkish dari otoritas moneter Amerika Serikat.
“Jika ketua The Fed menilai kebijakan saat ini masih akomodatif, berarti masih ada pekerjaan yang harus dilakukan,” kata Michael Gapen.
Pasar keuangan merespons kebijakan tersebut dengan kenaikan imbal hasil obligasi Treasury bertenor dua tahun ke level 4,73% dan tenor 10 tahun menembus angka 5%.
Kepala Strategi Makro TD Securities, Oscar Munoz, menyebut bahwa bank sentral saat ini lebih memprioritaskan risiko inflasi di atas kekhawatiran mengenai perlambatan pertumbuhan ekonomi.
“Jelas bahwa The Fed saat ini lebih mengkhawatirkan inflasi, itulah alasan mereka menaikkan suku bunga hari ini dan tampaknya masih ada kenaikan yang akan dilakukan,” kata Oscar Munoz.
Proyeksi suku bunga terbaru menunjukkan median pejabat The Fed berada di angka 4,1% untuk akhir 2026, naik dari estimasi sebelumnya sebesar 3,8%.
Sebanyak 16 pejabat memperkirakan setidaknya terdapat satu kali kenaikan suku bunga tambahan pada tahun ini, mencerminkan konsensus yang semakin kuat mengenai perlunya pengetatan.
Keputusan tersebut diambil menyusul laporan Biro Statistik Tenaga Kerja AS (BLS) yang menunjukkan inflasi inti Agustus tumbuh lebih tinggi dari ekspektasi pasar.
Langkah ini menempatkan The Fed dalam posisi berseberangan dengan Presiden AS Donald Trump, yang sebelumnya mendesak penurunan suku bunga dan mengancam eskalasi perang dagang.
Meskipun menaikkan suku bunga, Kevin Warsh menegaskan bahwa ekonomi Amerika Serikat menunjukkan ketahanan yang solid dan tidak terhambat oleh kondisi keuangan yang ada.
“Perekonomian Amerika tampaknya sedang menguat,” kata Kevin Warsh.
“Dengan ketahanan tersebut dan potensi yang lebih besar, saya melihat optimisme di antara anggota FOMC dalam dua hari terakhir,” ujar Kevin Warsh.
Pejabat The Fed mencatat bahwa pertumbuhan produktivitas, investasi modal, dan penciptaan lapangan kerja tetap kuat di tengah tekanan inflasi tahunan yang masih berada di atas 3% dalam periode enam hingga 12 bulan terakhir.







