Palangka Raya – Korps Pasukan Gerak Cepat (Korpasgat) TNI AU mengerahkan teknologi drone thermal untuk memetakan titik panas di kawasan hutan Kecamatan Sebangau, Kota Palangka Raya, Kalimantan Tengah, pada Minggu (13/9/2026), sebagai upaya percepatan penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Dilansir dari Fenesia, penggunaan perangkat teknologi ini bertujuan untuk mendeteksi lokasi api serta bara yang tersembunyi di balik kabut asap pekat yang membatasi jarak pandang visual di lapangan.
Komandan Tim Alpha Satuan Tugas Karhutla Provinsi Kalteng, Kapten Pas M Hermanto Saputra, menyatakan bahwa penggunaan drone tersebut menjadi krusial karena kondisi medan yang tertutup asap menghalangi identifikasi titik api secara konvensional.
“Kalau menggunakan secara visual, kita tidak bisa melihat titik lokasi api karena pandangan terbatas oleh asap,” kata Hermanto.
“Dengan drone thermal, kita bisa menggambarkan titik api atau bara api tersebut,” ujar Hermanto.
Setiap data yang diperoleh dari hasil pemantauan udara segera diteruskan kepada pos jaga setempat agar tim di lapangan dapat melakukan tindakan pencegahan perluasan api ke area permukiman warga.
Tim di lapangan turut dilengkapi dengan peralatan khusus seperti fireball dan alat pemadam api ringan (APAR) untuk menjangkau titik api di wilayah terpencil yang sulit diakses oleh kendaraan operasional.
Selain pemetaan udara, TNI AU bersama tim gabungan terus mengintensifkan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) untuk menanggulangi kekeringan dan kabut asap di wilayah Kalimantan.
Hingga saat ini, operasi tersebut telah mencatatkan 69 sorti penerbangan dengan total penyemaian 56.800 kilogram bahan Natrium Klorida (NaCl).
Operasi ini mengandalkan pesawat Cassa NC-212 yang dijadwalkan terbang satu hingga dua kali setiap hari menyesuaikan dengan ketersediaan awan hujan.
Danlanud Iskandar, Letkol Pnb Nugroho Tri Widyanto, menjelaskan bahwa efektivitas operasi sangat bergantung pada kondisi visibilitas yang sering kali berubah drastis akibat paparan asap.
Menurut Nugroho, setelah dilakukan penyemaian awan, visibilitas di wilayah terdampak dilaporkan sempat meningkat hingga mencapai angka 5.000 hingga 6.000 meter.
Manajemen kru pesawat dilakukan secara ketat dengan memperhatikan batas jam terbang serta durasi istirahat untuk menjaga keselamatan personel selama misi berlangsung.
Bahan penyemaian yang memiliki sifat korosif juga telah dilindungi dengan pelapis plastik untuk mencegah kerusakan struktur pesawat dan memperpanjang usia pakai armada.
Hasil dari OMC yang dilakukan sebelumnya telah memicu hujan dengan intensitas kecil hingga sedang di wilayah Barito, Kapuas, dan Kota Palangka Raya selama tiga hari berturut-turut.
“Kondisi tersebut memberikan manfaat bagi masyarakat di wilayah terdampak,” kata Nugroho.
Total sorti tersebut terdiri dari 17 penerbangan oleh pesawat Cassa TNI AU dan 52 penerbangan menggunakan pesawat Caravan milik BNPB.
“Melalui OMC secara terkoordinasi, TNI AU terus mendukung upaya penanganan dampak kekeringan dan kabut asap di wilayah Kalimantan dengan menjaga kesiapan personel, kru, dan pesawat agar operasi dapat berlangsung aman, efektif, dan berkelanjutan,” kata Nugroho.







