Asia Tenggara – Teknologi kecerdasan artifisial atau AI mulai mengubah lanskap bisnis live commerce di kawasan ini secara signifikan pada Rabu (9/9/2026) karena menawarkan efisiensi biaya operasional dibandingkan penggunaan host manusia.
Dilansir dari Momentum Works, penggunaan AI dalam siaran langsung kini mampu menekan biaya operasional hingga hanya 20%–25% dari total pengeluaran yang dibutuhkan jika menggunakan tenaga manusia.
Laporan bertajuk Live Commerce in Southeast Asia 2026 tersebut mencatat bahwa performa transaksi atau Gross Merchandise Value (GMV) dari siaran berbasis AI telah mencapai rata-rata 80% dari performa siaran yang dipandu oleh manusia.
Beberapa sesi siaran langsung menggunakan AI bahkan dilaporkan mampu mencatatkan angka penjualan yang melampaui standar manusia dengan efisiensi mencapai 110%.
“AI live dimulai dengan keunggulan biaya struktural,” kata pihak Momentum Works dalam laporan tersebut.
Keunggulan biaya yang rendah ini memungkinkan berbagai merek untuk memperpanjang durasi siaran mereka serta mencakup lebih banyak variasi produk dalam berbagai slot waktu.
Perusahaan modal ventura yang berbasis di Singapura ini memproyeksikan bahwa GMV dari content commerce di Asia Tenggara akan mencapai angka US$ 77,9 miliar atau setara Rp 1.373,4 triliun sepanjang tahun 2026.
Angka proyeksi tersebut menunjukkan pertumbuhan sebesar 57% secara year on year (yoy) dibandingkan dengan tahun sebelumnya.
Pada semester pertama 2026, GMV sektor ini telah menyentuh angka US$ 33,8 miliar atau sekitar Rp 596 triliun.
Kontribusi live commerce, video pendek, dan afiliasi terhadap total GMV e-commerce di kawasan ini juga terus meningkat hingga mencapai 37% pada semester pertama 2026.
Tren ini meningkat tajam dibandingkan porsi 32% pada tahun 2025 dan hanya 20% pada tahun 2024.
Meningkatnya adopsi teknologi ini menciptakan persaingan yang lebih ketat, sehingga tingkat pengembalian investasi atau Return on Investment (ROI) bagi pelaku bisnis diprediksi tidak akan bertahan lama.
Momentum Works menegaskan bahwa sekadar menjalankan live commerce tidak lagi cukup untuk menjadi pembeda di tengah pasar yang semakin jenuh.
Para pelaku bisnis disarankan untuk melihat content commerce sebagai portofolio berbagai format, termasuk video pendek dan ulasan produk, bukan sekadar kanal tunggal.
Meskipun China dapat dijadikan peta perkembangan otomasi dan data, strategi tersebut tidak dapat diterapkan secara mentah di Asia Tenggara karena perbedaan perilaku konsumen serta dinamika kreator lokal.
Tantangan utama bagi merek saat ini adalah menentukan keunggulan kompetitif di tengah kemampuan operasional yang semakin mudah direplikasi oleh pesaing melalui bantuan teknologi AI.







