Jakarta – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dibuka menguat tipis sebesar 0,02% ke level Rp 17.608 per dolar AS pada perdagangan Senin (14/9/2026) di tengah tekanan sentimen inflasi global dan fluktuasi harga komoditas energi.
Dilansir dari Katadata, pergerakan mata uang Garuda ini mencatatkan kenaikan 4 poin atau 0,02% ke posisi Rp 17.607 per dolar AS pada pukul 09.10 WIB setelah sebelumnya ditutup melemah di level Rp 17.611 per dolar AS pada sesi perdagangan akhir pekan lalu.
Analis Doo Financial, Lukman Leong, memproyeksikan rupiah akan cenderung melemah dalam rentang Rp 17.550 hingga Rp 17.700 per dolar AS sepanjang hari ini.
Tekanan terhadap mata uang domestik dipicu oleh data inflasi AS yang dirilis lebih tinggi dari ekspektasi pasar sehingga mendorong kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah negara tersebut.
“Rupiah diperkirakan melemah terhadap dolar AS setelah data inflasi AS yang lebih kuat dari perkiraan memicu kenaikan kembali pada imbal obligasi AS,” kata Lukman.
Selain faktor kebijakan moneter AS, rupiah menghadapi tantangan eksternal akibat lonjakan harga minyak mentah dunia yang telah menembus level psikologis US$100 per barel.
Kenaikan harga energi tersebut memberikan sentimen negatif bagi mata uang negara pengimpor minyak karena memicu kekhawatiran terhadap peningkatan tekanan inflasi global.
Ketegangan geopolitik di Timur Tengah menjadi katalis utama di balik kenaikan harga minyak Brent yang kini bertahan di atas US$100 per barel.
Pelaku pasar global saat ini tengah mencermati risiko gangguan pasokan energi yang dapat terjadi akibat konflik berkepanjangan di kawasan penghasil minyak tersebut.
Kondisi eksternal ini menciptakan tantangan bagi stabilitas nilai tukar karena meningkatnya kebutuhan devisa untuk pembiayaan impor energi nasional.
Secara historis, pergerakan rupiah pada sesi sebelumnya sempat melemah sebesar 0,36% dibandingkan dengan posisi penutupan di level Rp 17.547 per dolar AS.
Interaksi antara kebijakan suku bunga Federal Reserve dan harga minyak dunia diperkirakan akan terus mendominasi arah pergerakan mata uang di pasar spot.
Para pelaku pasar tetap bersikap waspada terhadap data ekonomi Amerika Serikat terbaru yang mungkin memengaruhi ekspektasi suku bunga acuan ke depan.
Stabilitas rupiah sangat bergantung pada bagaimana otoritas moneter merespons tekanan inflasi yang berasal dari kenaikan biaya energi global.
Hingga penutupan pasar sore nanti, fluktuasi rupiah kemungkinan besar masih akan dipengaruhi oleh sentimen di pasar obligasi dan dinamika geopolitik internasional.







