Jakarta – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memastikan pemerintah belum berencana menambah alokasi subsidi energi meskipun harga minyak dunia kembali melonjak menembus angka US$ 101 per barel pada Kamis (10/9/2026).
Dilansir dari Bloomberg, lonjakan harga minyak ini dipicu oleh eskalasi ketegangan di Timur Tengah setelah Iran menyatakan kesiapannya menghadapi konflik yang lebih intensif, yang memicu kekhawatiran terhadap gangguan suplai di Selat Hormuz.
Purbaya menegaskan bahwa anggaran subsidi saat ini masih dalam kondisi mencukupi karena perhitungan rata-rata harga minyak sepanjang tahun masih berada di bawah angka US$ 90 per barel.
“Belum, belum, tapi kami waspadai terus perkembangannya, jangan sampai naik lebih tinggi lagi,” kata Purbaya.
Pemerintah optimistis dapat menjaga defisit anggaran tetap berada di bawah level 3% sesuai dengan komitmen fiskal yang berkelanjutan.
Data Kementerian Keuangan mencatat defisit anggaran per Agustus berada di angka 0,95%, sedikit meningkat dari posisi Juli yang sebesar 0,91%.
Purbaya menyatakan bahwa kenaikan harga minyak dunia saat ini tidak akan mengganggu daya beli masyarakat secara luas karena produk Pertalite tetap mendapatkan subsidi pemerintah.
“Kalau di-absorb di APBN kan enggak kan, sebagian mungkin yang Pertamax dan nonsubsidi akan terkena, tapi kan masyarakat umum daya belinya nggak terganggu,” ujar Purbaya.
Harga minyak acuan dunia, Brent, tercatat berada di level US$ 101,33 per barel pada pukul 09.06 waktu Singapura, sementara minyak West Texas Intermediate (WTI) naik 0,5% menjadi US$ 96,56 per barel.
Sepanjang tahun ini, harga minyak Brent telah mengalami kenaikan akumulatif hingga hampir 70% akibat ketidakpastian geopolitik yang berkepanjangan.
Meskipun telah melampaui level psikologis US$ 100 per barel, harga tersebut masih lebih rendah dibandingkan rekor tertinggi selama perang yang sempat menyentuh US$ 126 per barel pada April lalu.
Menteri Energi AS Chris Wright menyatakan bahwa aliran minyak mentah melalui Selat Hormuz mencapai hampir 11 juta barel per hari, sehingga risiko gangguan di jalur tersebut menjadi perhatian utama pasar global.
Kenaikan harga produk olahan seperti diesel bahkan tercatat lebih tajam, yang mencerminkan risiko pasokan akibat konflik antara Iran serta perang Rusia-Ukraina.
“Kenaikan harga minyak akan menjadi perhatian menjelang pemilu paruh waktu,” kata Kepala Strategi Komoditas di ING Groep NV, Warren Patterson.
Pemerintah menyatakan akan terus memantau dinamika harga komoditas energi global guna memastikan stabilitas fiskal tetap terjaga di sisa tahun berjalan.







