Tolikara – Kepolisian Resor Tolikara menyatakan situasi di Kampung Mairini, Distrik Bokondini, Kabupaten Tolikara, Papua Pegunungan, telah terkendali pascakecricuhan yang menewaskan seorang warga bernama Elky Wunungga pada Selasa (14/4/2026). Aparat memastikan senjata api milik anggota yang sempat dirampas massa kini telah berhasil diamankan kembali.
Kapolres Tolikara Komisaris Roberth Hitipeuw menegaskan bahwa insiden tersebut dipicu oleh pertikaian antarwarga yang saling lempar batu. Pihaknya membantah tudingan bahwa korban tewas akibat tembakan aparat. Berdasarkan hasil pemeriksaan, korban meninggal dunia akibat luka tusuk benda tajam.
“Personel kami justru mengalami luka-luka dalam peristiwa itu. Empat anggota terluka ringan akibat lemparan batu dan satu anggota mengalami luka berat akibat tusukan benda tajam,” ujar Roberth, Jumat (17/4/2026).
Roberth menjelaskan, saat kejadian, delapan personel yang bertugas di lapangan berupaya melerai kericuhan. Namun, massa justru menyerang petugas meski tembakan peringatan ke udara telah dilepaskan. Dalam situasi terdesak tersebut, massa berhasil melukai anggota dan merampas satu pucuk senjata api jenis revolver.
Ketegangan sempat memuncak pascakejadian, di mana warga dari sejumlah kampung sempat menutup akses masuk ke pemukiman. Untuk meredam konflik, Polres Tolikara kemudian mengerahkan personel tambahan dan merangkul tokoh agama, tokoh adat, serta elemen masyarakat setempat guna melakukan mediasi.
Sebelumnya, pihak Dewan Gereja Injili di Indonesia sempat melayangkan protes dengan menduga bahwa kematian Elky Wunungga disebabkan oleh tindakan represif aparat yang melakukan pembubaran paksa. Staf Dewan Gereja Injili di Indonesia, Eneko Bahabol, menyebut tidak adanya upaya persuasif sebelum aparat melepaskan tembakan.
Terkait hal tersebut, Roberth memastikan bahwa upaya mediasi telah membuahkan hasil positif. Saat ini, kondisi keamanan di Distrik Bokondini dilaporkan telah kondusif dan aktivitas masyarakat mulai berangsur normal.





