Jakarta – PT Nations Petroleum, anak usaha dari Arsari Group yang dimiliki oleh pengusaha Hashim Djojohadikusumo, resmi memenangkan lelang pengelolaan Wilayah Kerja (WK) migas Natuna D-Alpha yang berlokasi di lepas pantai Kepulauan Natuna, Jumat (18/9/2026).
Dilansir dari Kementerian ESDM, kemenangan tersebut dikukuhkan melalui Surat Keputusan Menteri ESDM No. 108.K/MG.4/DJM/2026 yang ditetapkan pada tanggal 17 September 2026.
Natuna D-Alpha merupakan salah satu lapangan gas raksasa yang memiliki cadangan migas sebesar 230 triliun kaki kubik (TCF) serta 350 juta barel minyak (MMBO).
Blok ini terletak di lepas pantai dengan jarak sekitar 250 kilometer dari Kepulauan Natuna dan merupakan bagian dari Blok East Natuna yang pertama kali dieksplorasi oleh perusahaan asal Italia, Agip, pada 1973.
Pemerintah sebelumnya telah membagi Blok East Natuna menjadi tiga bagian utama, yakni Arwana-Barakuda, D-Alpha, dan Paus.
Tantangan utama dalam pengembangan wilayah ini adalah tingginya kandungan karbondioksida (CO2) yang mencapai 71%, sehingga kapasitas gas yang dapat dieksploitasi diperkirakan hanya sekitar 46 TCF.
Sebelum dikelola oleh PT Nations Petroleum, blok ini sempat dikembangkan oleh Pertamina berdasarkan Surat Menteri ESDM No 3588/11/MEM/2008 tertanggal 2 Juni 2008.
Pertamina kemudian memutuskan untuk melakukan terminasi atau mengembalikan blok tersebut kepada pemerintah pada 2022 karena kendala teknis dan kandungan karbon yang tinggi.
“Pertamina tidak lepas semua, yang dikembalikan ke negara hanya Lapangan D-Alpha karena CO2-nya tinggi,” kata Dwi Soetjipto.
Pasca pengembalian oleh Pertamina, wilayah kerja ini sempat ditawarkan dalam beberapa lelang migas namun minim peminat karena medannya yang berat dan tantangan keekonomian.
Direktur Jenderal Migas sebelumnya, Tutuka Ariadji, menyatakan bahwa infrastruktur yang belum memadai serta tingginya kadar karbon menjadi penghambat utama pengembangan D-Alpha.
Sebelum akhirnya jatuh ke tangan Arsari Group, wilayah ini sempat menjadi objek studi bersama antara perusahaan migas asal Kuwait, Kufpec, dengan Shell.
Kepala SKK Migas, Djoko Siswanto, sempat menyebutkan bahwa Kufpec bertindak sebagai pemimpin konsorsium dan sedang mencari mitra strategis untuk mengembangkan Natuna D-Alpha.
Selain Natuna D-Alpha, Arsari Group melalui anak usahanya, PT Nations Natuna Barat, juga tengah menyelesaikan akuisisi 75% hak partisipasi di Blok Duyung, Cekungan West Natuna, Kepulauan Riau.
Blok Duyung saat ini mengelola lapangan gas Mako yang dikembangkan oleh perusahaan Australia, Conrad Asia Energy Ltd, dengan skema Kontrak Bagi Hasil Produksi (PSC).
Dalam transaksi tersebut, Arsari Group menyepakati pembayaran sebesar US$ 16 juta atau sekitar Rp 268,88 miliar kepada WNEL untuk mendapatkan hak partisipasi sebesar 75%.
WNEL akan tetap bertindak sebagai operator PSC Duyung dan mempertahankan 25% hak partisipasi setelah transaksi tersebut rampung pada kuartal ketiga 2026.
Proyek pengembangan lapangan gas Mako saat ini telah memasuki tahap keputusan akhir investasi atau final investment decision (FID).
Kegiatan operasional di WK Duyung mencakup rangkaian teknis mulai dari engineering, procurement, konstruksi, pengeboran, hingga instalasi offshore.
Proyek Mako ditargetkan mencapai produksi gas pertama (onstream) pada kuartal IV tahun 2027 untuk mendukung pemenuhan kebutuhan energi nasional.







