Ecozone

Wall Street Bangkit Usai Harga Minyak Turun, Pasar Antisipasi The Fed

14
×

Wall Street Bangkit Usai Harga Minyak Turun, Pasar Antisipasi The Fed

Sebarkan artikel ini
Papan layar elektronik yang menampilkan grafik kenaikan indeks saham di bursa Wall Street, New York.
Indeks bursa Wall Street menguat pada penutupan perdagangan Jumat setelah harga minyak dunia mengalami penurunan.

New York – Indeks bursa Wall Street di Amerika Serikat mencatatkan kenaikan pada penutupan perdagangan Jumat (11/9/2026) dipicu oleh koreksi harga minyak dunia meskipun pelaku pasar tetap mengantisipasi kenaikan suku bunga oleh Federal Reserve.

Dilansir dari CNBC, kenaikan indeks Dow Jones Industrial Average mencapai 509,19 poin atau 0,98% hingga menyentuh level 52.573,29.

Indeks S&P 500 turut menguat sebesar 0,86% ke posisi 7.656,98 sementara Nasdaq Composite naik 0,96% menjadi 26.333,04.

Kenaikan ini terjadi di tengah data CME Group FedWatch yang menunjukkan probabilitas kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin pada pekan depan mencapai 86%.

Ketiga indeks utama tersebut sebenarnya masih mencatatkan kinerja mingguan negatif dengan Dow Jones turun 1,6%, S&P 500 melemah 0,8%, dan Nasdaq terkoreksi 0,7%.

Penurunan tersebut menandai pekan negatif pertama bagi Nasdaq dalam kurun waktu tiga minggu terakhir.

Chief Global Strategist Principal Asset Management, Seema Shah, menyatakan bahwa fokus pelaku pasar telah bergeser dari sekadar kemungkinan kenaikan suku bunga menuju durasi siklus pengetatan kebijakan moneter.

“Perdebatan dengan cepat bergeser dari apakah The Fed akan menaikkan suku bunga menjadi pertanyaan yang lebih penting, yakni berapa kali kenaikan suku bunga yang pada akhirnya diperlukan dalam siklus ini,” kata Seema Shah.

Seema Shah menambahkan bahwa The Fed kemungkinan besar tidak akan membatasi diri pada satu kali kenaikan suku bunga saja demi mencapai stabilitas harga.

“Setelah inflasi berada di atas target selama setengah dekade, para pembuat kebijakan kemungkinan akan menyimpulkan bahwa diperlukan lebih dari satu kali kenaikan suku bunga untuk kembali menciptakan stabilitas harga,” kata Seema Shah.

Di sisi lain, harga minyak mentah mengalami tekanan jual setelah sempat melonjak akibat ketegangan geopolitik di Timur Tengah.

Kontrak berjangka West Texas Intermediate (WTI) tercatat turun 2,4% ke level US$ 100,05 per barel.

Harga minyak Brent juga terkoreksi 2,8% menjadi US$ 104,61 per barel.

Meskipun terjadi koreksi harian, harga WTI masih membukukan kenaikan mingguan sebesar hampir 10%.

Harga minyak Brent secara mingguan juga masih mencatatkan penguatan dengan kenaikan mendekati 9%.

Data ekonomi menunjukkan indeks harga konsumen (CPI) AS naik 0,4% secara bulanan pada Agustus dan 3,4% secara tahunan.

Inflasi inti atau core CPI yang tidak mencakup harga makanan serta energi tercatat naik 0,3% secara bulanan atau sedikit di atas ekspektasi pasar.

Imbal hasil obligasi Treasury AS tenor dua tahun sempat menembus level 4,6% yang menjadi posisi tertinggi sejak Juli 2024.

Kenaikan imbal hasil tersebut mencerminkan sikap pasar yang semakin yakin bahwa bank sentral akan mengambil langkah tegas dalam kebijakan suku bunga.