Berita

Misteri Hilangnya Raja dalam Peristiwa Bersejarah Perang Gowa

1
×

Misteri Hilangnya Raja dalam Peristiwa Bersejarah Perang Gowa

Sebarkan artikel ini
Penulis Ahmadie Thaha saat meluncurkan novel sejarah Perang Gowa 1905–1906 di Gedung Philanthropy Dompet Dhuafa, Jakarta.
Penulis Ahmadie Thaha meluncurkan novel sejarah Perang Gowa 1905–1906 di Gedung Philanthropy Dompet Dhuafa, Jakarta.

Jakarta – Penulis Ahmadie Thaha meluncurkan novel sejarah berjudul Perang Gowa 1905–1906 pada Minggu (13/9/2026) di Gedung Philanthropy Dompet Dhuafa, Jakarta, sebagai upaya menghidupkan kembali narasi sejarah perlawanan Kerajaan Gowa terhadap kolonialisme Hindia Belanda.

Dilansir dari kolom Ahmadie Thaha, karya setebal 175 halaman yang diterbitkan oleh Satria Publisher ini menyoroti misteri hilangnya Raja Gowa, I Makkulau Daeng Serang Karaeng Lembangparang, yang dikenal dengan gelar Sultan Husain Tuminanga ri Bundu’na.

Novel tersebut mengeksplorasi sisi humanis dan romantis di balik ketegangan perang, termasuk kisah cinta yang bersinggungan dengan intrik politik masa itu.

Ahmadie Thaha, yang lahir di Parepare pada 13 Februari 1945, merupakan penulis berpengalaman yang sebelumnya dikenal melalui sejumlah buku biografi BJ Habibie.

Arsip nasional mencatat bahwa Ahmadie Thaha memiliki kontribusi besar dalam pendokumentasian sejarah melalui penyerahan ratusan arsip tekstual dan foto milik BJ Habibie ke ANRI.

Dalam diskusi peluncuran buku tersebut, kritikus sastra Ahmadun Yosi Herfanda memberikan catatan kritis mengenai struktur alur novel yang memadukan fakta sejarah dengan elemen imajinatif.

Ahmadun Yosi Herfanda menyatakan bahwa novel sejarah memang memadukan fakta sejarah dengan tokoh dan alur buatan pengarang, kata Ahmadun.

Turut hadir dalam diskusi tersebut, sejarawan Anhar Gonggong menegaskan bahwa meskipun novel sejarah memiliki ruang untuk subjektivitas, kerangka fakta sejarah tetap harus dipertanggungjawabkan.

Ahmadie Thaha menjelaskan bahwa ia memilih pendekatan menafsir ketimbang menyalin arsip kolonial untuk menghadirkan perspektif lokal yang lebih mendalam.

Buku ini dianggap sebagai kelanjutan dari minat penulis dalam mendalami sejarah kerajaan di Sulawesi Selatan, setelah sebelumnya menerbitkan novel Rumpa’na Bone pada 2015.

Konteks sejarah yang diangkat dalam novel ini berlatar belakang masa setelah perang besar di Aceh, saat pemerintah kolonial sedang memperkuat cengkeramannya di berbagai wilayah Nusantara.

Diskusi tersebut turut menyarankan agar potongan-potongan cerita dalam novel diadaptasi menjadi film pendek untuk menarik minat generasi muda dalam mempelajari sejarah.

Penggunaan media sosial sebagai sarana distribusi konten edukasi sejarah dinilai efektif untuk menjembatani kesenjangan minat baca masyarakat terhadap karya sastra sejarah.

Penulis menekankan bahwa silsilah kerajaan Gowa memiliki akar lokal yang kuat dan tidak dapat disederhanakan hanya melalui gelar atau nama yang bernuansa Arab.

Tujuan utama penulisan novel ini adalah memancing rasa ingin tahu pembaca mengenai identitas dan jejak sejarah para tokoh yang sempat terlupakan oleh zaman.

Melalui narasi yang personal, Ahmadie Thaha berharap pembaca dapat memahami bahwa sejarah adalah cerminan dari keberanian, ketakutan, dan harapan manusia di masa lalu.

Karya ini diposisikan sebagai pintu masuk bagi masyarakat untuk mengeksplorasi sejarah yang lebih luas di luar catatan resmi pemerintah kolonial.

Personel TNI AU mengoperasikan drone thermal untuk memetakan titik api di kawasan hutan Kecamatan Sebangau
Berita

Korps Pasukan Gerak Cepat (Korpasgat) TNI AU menggunakan drone thermal untuk mengobservasi dan memetakan titik panas (hotspot) di kawasan hutan Kecamatan Sebangau, Kota Palangka Raya, Kalimantan…