Ecozone

Perusahaan Rusia Bangun Pabrik Hilirisasi Bauksit di Kalimantan

6
×

Perusahaan Rusia Bangun Pabrik Hilirisasi Bauksit di Kalimantan

Sebarkan artikel ini
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia memberikan keterangan terkait investasi pembangunan pabrik pengolahan bauksit di Kalimantan.
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengonfirmasi rencana pembangunan pabrik hilirisasi bauksit oleh perusahaan Rusia di Kalimantan.

Jakarta – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengonfirmasi bahwa perusahaan asal Rusia, Russian Alumunium Company (Rusal), akan membangun pabrik hilirisasi bauksit menjadi alumina di wilayah Kalimantan pada Sabtu (12/9/2026).

Dilansir dari Antara, proses perizinan investasi tersebut kini telah memasuki tahap final melalui kolaborasi strategis antara perusahaan Rusia tersebut dengan mitra pengusaha dalam negeri.

“Urusan perizinannya sudah hampir di tahap final, kami memang melakukan kolaborasi dan mereka bekerja sama dengan pengusaha dalam negeri,” kata Bahlil Lahadalia.

Pemerintah Indonesia belum dapat merinci nilai investasi proyek tersebut karena masih menunggu penyelesaian studi kelayakan atau feasibility study (FS).

“Nanti tunggu studi kelayakannya diselesaikan dahulu,” kata Bahlil Lahadalia.

Rencana investasi berskala besar ini sebelumnya telah diungkapkan oleh Presiden Prabowo Subianto dalam agenda Eastern Economic Forum (EEF) yang berlangsung di Vladivostok, Rusia.

“Rusal akan masuk ke Indonesia dalam skala besar untuk mengembangkan kilang bersama kelompok-kelompok Indonesia,” kata Prabowo Subianto.

Pemerintah menyatakan bahwa keterlibatan Rusal merupakan bagian dari upaya memperluas kerja sama bilateral antara Indonesia dan Rusia di berbagai sektor strategis.

“Jadi, kami masih menantikan semakin banyak kerja sama bersama antara Rusia dan Indonesia,” kata Prabowo Subianto.

Rencana masuknya Rusal ke sektor pengolahan aluminium nasional sebenarnya bukanlah wacana baru dalam industri pertambangan tanah air.

Wacana keterlibatan perusahaan aluminium terbesar di dunia tersebut sudah mulai beredar sejak tahun 2014.

Pada masa itu, pihak Rusal sempat melakukan penjajakan kemitraan dengan pengusaha lokal untuk mengamankan suplai bijih bauksit sebagai bahan baku utama.

Mantan Menteri Perindustrian MS Hidayat kala itu menjelaskan bahwa perusahaan tersebut memerlukan waktu untuk memverifikasi potensi sumber daya bauksit dari calon mitra lokal sebelum menentukan nilai investasi.

“Setelah tiga bulan baru Rusal memastikan angka investasinya, dalam pengolahan alumina, setelah mereka secure dengan sumber-sumber bauksit itu,” kata MS Hidayat.

Sebelumnya, Rusal telah menandatangani nota kesepahaman dengan perusahaan Indonesia, namun realisasi proyek tersebut sempat tertunda akibat dinamika ekonomi global.

“Tadi juga mereka minta maaf, itu karena ada masalah global,” kata MS Hidayat.

Hilirisasi bauksit menjadi alumina diproyeksikan menjadi langkah krusial dalam mendukung kebijakan pemerintah untuk meningkatkan nilai tambah komoditas mineral di dalam negeri.

Kehadiran Rusal diharapkan dapat mempercepat penguasaan teknologi pengolahan mineral yang saat ini menjadi fokus utama Kementerian ESDM dalam memperkuat struktur industri nasional.

Proyek di Kalimantan ini nantinya akan menjadi salah satu pilar penting dalam peta jalan hilirisasi mineral yang dicanangkan oleh pemerintah demi menjaga ketahanan pasokan industri aluminium dunia.