Ecozone

IHSG Rawan Terkoreksi, Analis Rekomendasikan Saham CDIA, UNTR, ADRO, MYOR

15
×

IHSG Rawan Terkoreksi, Analis Rekomendasikan Saham CDIA, UNTR, ADRO, MYOR

Sebarkan artikel ini
Grafik pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di layar monitor bursa efek
IHSG diproyeksikan masih berada dalam tekanan koreksi pada perdagangan Jumat (11/9/2026).

Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diproyeksikan masih berada dalam tekanan koreksi pada perdagangan Jumat (11/9/2026) setelah mencatatkan penurunan signifikan sebesar 1,33% ke level 6.589 pada sesi sebelumnya.

Dilansir dari riset MNC Sekuritas, indeks saat ini masih didominasi oleh tekanan jual yang kuat, sehingga secara teknikal pasar berada dalam tren penurunan yang berisiko menyeret indeks menuju rentang 6.505 hingga 6.584.

Analis MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, menyatakan bahwa area penguatan indeks diperkirakan berada di kisaran 6.737 hingga 6.837.

Pihak MNC Sekuritas menetapkan area support pada kisaran 6.561 hingga 6.476, sementara level resistance dipetakan berada di rentang 6.705 hingga 6.755.

Untuk memitigasi risiko, perusahaan sekuritas tersebut memberikan rekomendasi buy on weakness bagi saham PT Chandra Daya Investasi Tbk (CDIA) pada rentang harga Rp 695 hingga Rp 705 dengan target harga Rp 730 hingga Rp 760 serta posisi stoploss di bawah Rp 690.

Selain itu, PT United Tractors Tbk (UNTR) juga direkomendasikan dengan strategi serupa pada area Rp 25.800 hingga Rp 26.225, dengan target harga Rp 27.400 hingga Rp 27.925 dan stoploss di bawah Rp 25.475.

Dalam analisis terpisah, Phintraco Sekuritas mengamati bahwa penutupan indeks di bawah rata-rata pergerakan lima hari (MA5) dan MA10, serta adanya indikasi death cross pada MACD dan Stochastic RSI, memperkuat sinyal pelemahan lebih lanjut.

Phintraco Sekuritas memperkirakan IHSG akan menguji level moving average 20 (MA20) di 6.525, yang jika tertembus dapat memicu penurunan lebih dalam menuju area support 6.400 hingga 6.460.

Sentimen domestik turut dipengaruhi oleh data penjualan ritel Indonesia yang tumbuh 1,1% secara tahunan pada Juli 2026, didorong oleh pemulihan sektor makanan, minuman, dan pakaian.

Namun, pertumbuhan penjualan suku cadang otomotif tercatat melambat signifikan menjadi 5,1% dari posisi sebelumnya di 18,8%.

Data dari Phintraco Sekuritas juga mencatat bahwa penjualan ritel secara bulanan mengalami kontraksi sebesar 0,1% pada Agustus 2026, berbalik dari pertumbuhan 0,7% pada bulan sebelumnya.

Terkait kondisi fiskal, laporan menunjukkan defisit APBN telah mencapai Rp 235,6 triliun atau 0,91% terhadap PDB hingga Juli 2026, dengan belanja negara yang melonjak 18,62% secara tahunan.

Meskipun pemerintah dinilai masih memiliki ruang fiskal yang memadai terhadap target defisit 2,85% terhadap PDB, risiko pelebaran defisit tetap membayangi akibat tingginya harga minyak dunia dan tantangan efisiensi anggaran.

Menanggapi kondisi pasar tersebut, Phintraco Sekuritas merekomendasikan investor untuk mencermati saham PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI), PT Media Nusantara Citra Tbk (MNCN), PT Mayora Indah Tbk (MYOR), PT Astra International Tbk (ASII), dan PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO).