Ecozone

Menakar Dampak Label Hijau KEEN, HGII, dan TOBA terhadap Valuasi

36
×

Menakar Dampak Label Hijau KEEN, HGII, dan TOBA terhadap Valuasi

Sebarkan artikel ini
Logo Bursa Efek Indonesia di gedung BEI Jakarta
Bursa Efek Indonesia menetapkan PT TBS Energi Utama, PT Arkora Hydro, dan PT Kencana Energi Lestari dalam daftar IDX Green Equity.

Jakarta – Masuknya PT TBS Energi Utama Tbk (TOBA), PT Arkora Hydro Tbk (HGII), dan PT Kencana Energi Lestari Tbk (KEEN) ke dalam daftar IDX Green Equity Designation oleh Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Kamis (10/9/2026) tidak secara otomatis menjadi katalis kenaikan valuasi bagi ketiga emiten tersebut.

Dilansir dari Katadata.co.id, Investment Specialist Korea Investment Sekuritas Indonesia, Azharys Hardian, menyatakan bahwa investor tetap harus mencermati komitmen nyata perusahaan dalam mengembangkan bisnis hijau, terutama melalui realisasi belanja modal atau capital expenditure (capex) dan arus kas investasi.

Menurut Azharys, perbedaan realisasi investasi antara ketiga emiten tersebut cukup mencolok pada semester pertama 2026.

TOBA tercatat mengalokasikan dana sekitar Rp 200 miliar untuk investasi, angka yang jauh lebih tinggi dibandingkan HGII sebesar Rp 2 miliar dan KEEN sebesar Rp 1,4 miliar.

Besarnya realisasi investasi tersebut selaras dengan status Green Equity Transition yang diberikan BEI kepada TOBA.

Namun, Azharys menilai valuasi pasar TOBA saat ini belum sepenuhnya mencerminkan potensi pertumbuhan bisnis hijau perseroan dalam jangka panjang.

“Namun, tren penurunan rugi bersih perseroan menjadi indikasi awal adanya perbaikan pada kinerja fundamental,” kata Azharys.

Ia menekankan bahwa label hijau tersebut belum cukup menjadi dasar utama dalam menentukan valuasi sebuah saham.

Investor perlu memastikan bahwa ekspansi hijau perusahaan mampu menghasilkan kinerja operasional dan arus kas yang nyata.

“Terutama untuk memastikan bahwa proyek ekspansi hijau emiten benar-benar dapat beroperasi secara komersial dan menghasilkan arus kas nyata tanpa terganggu risiko kegagalan eksekusi,” kata Azharys.

Bisnis energi terbarukan memerlukan investasi besar dengan periode pengembalian yang cenderung panjang.

Di antara ketiga emiten tersebut, TOBA menjadi perusahaan yang menunjukkan realisasi investasi paling agresif pada paruh pertama tahun ini.

Perusahaan sedang melakukan transformasi dari ketergantungan pada batu bara menuju bisnis berkelanjutan, termasuk pengelolaan limbah dan kendaraan listrik.

Azharys melihat status Green Equity Transition TOBA sebagai peluang pembukaan nilai atau unlock value dan potensi perbaikan bisnis.

Peluang ini didukung komitmen TOBA untuk memensiunkan dua unit PLTU dan mengalihkan fokus bisnis ke energi bersih.

Selain itu, TOBA menargetkan pengelolaan 1 juta ton sampah menjadi energi listrik serta pengoperasian Proyek Strategis Nasional (PSN) PLTS Terapung Tembesi berkapasitas 46 MWp bersama PLN pada akhir 2026.

Status transisi tersebut sekaligus menunjukkan bahwa proses transformasi TOBA belum sepenuhnya selesai.

Investor masih perlu mencermati risiko eksekusi operasional, pencapaian target komersial, serta financial leverage akibat ekspansi besar-besaran.

Label hijau dari BEI juga tidak otomatis membuat saham-saham tersebut menjadi sasaran dana berbasis ESG.

Azharys menjelaskan bahwa pengelola dana institusional umumnya masih menggunakan indeks acuan lain seperti SRI-KEHATI, di mana HGII, KEEN, dan TOBA belum menjadi konstituen.

Direktur Utama BEI, Jeffrey Hendrik, menegaskan bahwa IDX Green Equity Designation bukanlah pemeringkatan, rekomendasi investasi, maupun jaminan kinerja keuangan.

Penetapan status ini bersifat sukarela bagi emiten dan berlaku sejak 28 Agustus 2026 hingga periode evaluasi Juli 2027.

Secara fundamental, TOBA mencatatkan pendapatan US$ 173 juta pada semester I 2026, dengan kontribusi bisnis nonbatu bara mencapai 66,5%.

Sementara itu, laba bersih HGII tercatat sebesar Rp 11,58 miliar dan KEEN membukukan pendapatan US$ 16,8 juta pada periode yang sama.