Singapura – Harga minyak mentah dunia mengalami lonjakan pada Senin (31/8/2026) menyusul aksi militer Amerika Serikat yang menyerang peluncur roket milik Iran di Selat Hormuz, sehingga memicu kekhawatiran pasar terhadap stabilitas pasokan energi global.
Dilansir dari Bloomberg, harga minyak Brent terpantau naik 1,8% menjadi US$ 89,72 per barel, sementara minyak West Texas Intermediate (WTI) mengalami penguatan 1,7% ke level US$ 84,81 per barel.
Juru bicara Komando Pusat AS (CENTCOM), Kapten Tim Hawkins, menyatakan bahwa serangan tersebut ditujukan untuk menghancurkan peluncur roket Iran yang terindikasi sedang bersiap menebarkan ranjau di jalur pelayaran strategis tersebut.
Laporan dari Fox News menyebutkan bahwa ketegangan semakin memuncak setelah Iran dilaporkan meluncurkan serangan terhadap pasukan AS di Yordania, meski sejumlah rudal berhasil dicegat tanpa menimbulkan kerusakan signifikan.
Kepala Riset Pepperstone Group Ltd, Chris Weston, menilai bahwa eskalasi militer ini justru memperburuk prospek diplomasi antara kedua negara.
“Serangan langsung terhadap lokasi peluncuran Iran tidak banyak membantu mendorong perundingan, begitu pula jika Iran melakukan serangan balasan ke Yordania,” kata Chris Weston.
Ketidakpastian geopolitik ini telah menyebabkan harga minyak Brent bergerak fluktuatif dengan rentang hampir US$ 17 per barel sepanjang bulan ini akibat mandeknya upaya perdamaian.
Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, menegaskan komitmen pemerintah untuk meningkatkan isolasi ekonomi terhadap Teheran sebagai bagian dari strategi menekan posisi tawar Iran.
Kendati konflik terus berlanjut, data pedagang menunjukkan arus distribusi sekitar 6-8 juta barel minyak mentah per hari masih tetap mengalir melalui Selat Hormuz.
Kantor berita semi-resmi Iran, Mehr, melaporkan bahwa lalu lintas kapal di jalur tersebut saat ini berlangsung terbatas dengan kewajiban membayar biaya melintas kepada otoritas Teheran.
Panglima tertinggi AS untuk kawasan Timur Tengah menyatakan bahwa pasukannya telah berhasil membersihkan ranjau-ranjau di Selat Hormuz untuk memastikan jalur pelayaran tetap terbuka bagi pasar global.
Sebagai langkah antisipasi terhadap krisis energi, Presiden AS Donald Trump berencana mengambil kendali atas lebih dari 65 miliar barel cadangan minyak Venezuela guna mengisi kembali cadangan minyak darurat nasional.
Donald Trump dijadwalkan mengadakan pertemuan dengan para eksekutif perusahaan penyulingan minyak pada hari Selasa untuk membahas strategi penurunan harga bahan bakar di tengah tekanan harga solar akibat perang Rusia-Ukraina.
Aktivitas perdagangan kontrak berjangka Brent pada sesi hari ini diperkirakan cenderung sepi dibandingkan hari biasanya karena adanya hari libur nasional di Inggris.







