Berita

IHSG Berpotensi Melemah, Analis Rekomendasikan Saham DEWA, ICBP, dan SSIA

7
×

IHSG Berpotensi Melemah, Analis Rekomendasikan Saham DEWA, ICBP, dan SSIA

Sebarkan artikel ini

Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diprediksi mengalami tekanan penurunan pada perdagangan Kamis (20/8/2026) di tengah sentimen pasar domestik maupun global yang beragam.

Dilansir dari riset Binaartha Sekuritas, IHSG berpotensi kembali mencoba mencapai resisten Fibonacci di level 6.545 setelah melewati fase koreksi yang relatif terbatas pada sesi perdagangan sebelumnya.

Analis Binaartha Sekuritas, Ivan Rosanova, menyatakan bahwa penembusan di bawah level 6.267 dan garis SMA-20 dapat menjadi sinyal awal dimulainya tren penurunan dalam jangka pendek.

“Indikator MACD menunjukkan adanya momentum bullish,” kata Ivan.

Tingkat support indeks saat ini berada pada angka 6.267, 6.042, dan 5.887, sementara posisi resistance berada di level 6.545, 6.700, serta 6.835.

Dalam analisis teknikal, support dipahami sebagai titik terendah harga saham yang memicu peningkatan aktivitas pembelian, sedangkan resistance merupakan titik tertinggi yang sering kali memicu aksi jual masif.

Berdasarkan proyeksi teknikal tersebut, Ivan merekomendasikan beberapa saham pilihan dengan target harga tertentu bagi para investor.

Saham yang direkomendasikan mencakup PT Darma Henwa Tbk (DEWA) dengan target Rp 484 dan PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP) dengan target Rp 7.950.

Selain itu, terdapat pula rekomendasi untuk PT Kalbe Farma Tbk (KLBF) dengan target Rp 845, PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) dengan target 540, serta PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) di level Rp 1.510.

Di sisi lain, tim riset BRI Danareksa memproyeksikan pergerakan IHSG akan terbatas dalam rentang 6.330 hingga 6.490.

Secara teknikal, pola shooting star yang terbentuk di area 6.490 mengindikasikan adanya potensi konsolidasi atau aksi ambil untung (profit taking) lanjutan setelah indeks mengalami dua kali penolakan di zona 6.400–6.450.

Meskipun demikian, IHSG dinilai masih bertahan di atas MA20 dengan indikator MACD yang tetap berada dalam zona positif, sehingga bias jangka pendek belum berubah menjadi bearish.

Fokus pasar saat ini tertuju pada dampak FOMC Minutes terhadap imbal hasil US Treasury, nilai tukar dolar AS, serta minat investor terhadap aset berisiko tinggi.

Dari sisi domestik, pasar mencermati keputusan Bank Indonesia (BI) yang mempertahankan suku bunga di level 5,75% serta penundaan penambahan konstituen baru Indonesia oleh FTSE hingga Desember 2026 yang memengaruhi arus modal asing.

Faktor global yang turut menekan pasar adalah kenaikan harga minyak ke kisaran US$91 per barel akibat ketidakpastian di Selat Hormuz dan tensi geopolitik antara AS dan Iran yang meningkatkan risiko inflasi.

Tim riset BRI Danareksa memberikan rekomendasi saham kepada pelaku pasar, yakni PT Buana Lintas Lautan Tbk (BULL), PT Karya Pacific Energy Tbk (IATA), serta PT Surya Semesta Internusa Tbk (SSIA).