Ecozone

Harga Minyak Sentuh US$ 97, Pasar Cermati Kesepakatan Iran-Oman

4
×

Harga Minyak Sentuh US$ 97, Pasar Cermati Kesepakatan Iran-Oman

Sebarkan artikel ini
Tampilan layar terminal perdagangan yang menunjukkan grafik kenaikan harga minyak mentah dunia
Harga minyak dunia melonjak mencapai US$ 97 per barel di tengah ketegangan geopolitik terkait Selat Hormuz.

Singapura – Harga minyak dunia melonjak mencapai angka US$ 97 per barel pada Selasa (8/9/2026) di tengah intensitas ketegangan geopolitik terkait negosiasi pengaturan Selat Hormuz antara Iran dan Oman.

Dilansir dari Bloomberg, kenaikan harga ini dipicu oleh kekhawatiran para pelaku pasar akan potensi gangguan arus pasokan energi global yang melintasi jalur perdagangan vital tersebut.

Harga minyak mentah jenis Brent tercatat berada pada level US$ 97,03 per barel, sementara minyak West Texas Intermediate (WTI) turut mengalami kenaikan hingga mencapai US$ 92,43 per barel.

Lonjakan harga Brent telah mencapai lebih dari 30% sejak konflik bersenjata pecah enam bulan lalu, meskipun angka tersebut masih berada di bawah rekor tertinggi sebesar US$ 126 per barel yang tercatat pada akhir April.

Kondisi ini diperparah oleh kenaikan harga produk olahan seperti diesel akibat perang Rusia-Ukraina yang secara signifikan memperketat ketersediaan pasokan di pasar internasional.

Iran dan Oman saat ini sedang berupaya meresmikan pengaturan pengelolaan Selat Hormuz melalui skema biaya transit, sebuah langkah yang bertolak belakang dengan posisi Amerika Serikat yang menuntut kebebasan navigasi di perairan tersebut.

Pihak Iran menyatakan bahwa kesepakatan mengenai rute pelayanan aman sementara di Selat Hormuz akan segera tercapai dalam waktu dekat.

Eskalasi pertempuran antara Amerika Serikat dan Iran yang kembali terjadi dalam sepekan terakhir telah memicu kekhawatiran global terhadap keberlangsungan arus energi dari kawasan Teluk Persia.

Selat Hormuz memegang peranan krusial dalam ekonomi global, mengingat jalur tersebut secara normal melayani pengiriman seperlima dari total pasokan minyak dan gas dunia.

Meskipun terdapat risiko pelayaran, data dari Macquarie Group Ltd menunjukkan bahwa sekitar 7 juta barel minyak mentah dan produk olahan masih berhasil melintasi Selat Hormuz setiap harinya.

Volume pengiriman tersebut tercatat jauh lebih rendah dibandingkan periode sebelum perang yang mampu mencapai angka 20 juta barel per hari.

Peningkatan pembelian minyak oleh kilang-kilang di Cina turut mendongkrak harga minyak mentah dari Afrika, Kanada, dan Amerika Latin, namun para analis menilai hal tersebut belum menjadi indikator pemulihan permintaan jangka panjang.

“Pasar semakin memperhitungkan kemungkinan konflik Timur Tengah berlangsung berkepanjangan,” kata analis Goldman Sachs Group Inc., Daan Struyven.

Menanggapi situasi tersebut, Goldman Sachs telah merevisi naik proyeksi harga minyak dengan asumsi bahwa gangguan pelayaran di kawasan tersebut akan terus berlanjut hingga tahun 2027.

Pemerintah Amerika Serikat melalui sejumlah pejabatnya menyatakan bahwa ekspor minyak dari wilayah tersebut masih menunjukkan ketahanan yang kuat sepanjang pekan terakhir.