Ecozone

Cina Beri Sinyal Minat Garap Proyek 100 GW PLTS Indonesia

120
×

Cina Beri Sinyal Minat Garap Proyek 100 GW PLTS Indonesia

Sebarkan artikel ini
Utusan Khusus Perubahan Iklim Cina Liu Zhenmin saat membahas rencana kerja sama pengembangan PLTS 100 GW di Indonesia.
Utusan Khusus Perubahan Iklim Cina, Liu Zhenmin, menyatakan kesiapan negaranya mendukung proyek PLTS 100 GW di Indonesia.

Jakarta – Utusan Khusus Perubahan Iklim Cina Liu Zhenmin menyatakan kesiapan negaranya untuk mendukung rencana pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) berkapasitas 100 Gigawatt di Indonesia pada Sabtu (1/8/2026).

Dilansir dari MSN, Liu menyampaikan bahwa pemerintah Cina secara aktif mendorong perusahaan-perusahaan domestiknya untuk menjalin kerja sama strategis dengan mitra di Indonesia guna merealisasikan program energi terbarukan tersebut.

Menurut Liu, kolaborasi antarnegara berkembang atau global south merupakan elemen pelengkap krusial dalam tata kelola iklim global yang idealnya terjalin dengan dukungan negara-negara maju.

Ia menyoroti bahwa sejumlah negara maju justru cenderung melambat dalam melakukan aksi iklim dan bahkan menarik diri dari berbagai perjanjian iklim global yang telah disepakati sebelumnya.

Tren negatif dari negara maju tersebut mengakibatkan pemenuhan komitmen pendanaan iklim serta transfer teknologi ke negara berkembang menjadi semakin terhambat.

Cina berkomitmen untuk menggalakkan kerja sama internasional dalam pembangunan hijau dan rendah karbon sebagai bagian dari rencana besar untuk membangun sistem energi terbarukan tercepat di dunia.

Hingga saat ini, Cina tercatat telah terlibat dalam berbagai proyek energi hijau dengan lebih dari 100 negara dan wilayah di seluruh dunia.

“Sebagai negara berkembang besar, Cina terus memberikan dukungan dan bantuan kepada negara-negara berkembang lainnya semaksimal mungkin,” kata Liu.

Data menunjukkan bahwa hingga Juni 2026, Cina telah menandatangani 56 nota kesepahaman (MoU) terkait perubahan iklim dengan 43 negara berkembang.

“Cina siap bekerja sama dengan Indonesia dan pihak-pihak lain untuk memberikan kontribusi yang lebih besar dalam mencapai netralitas karbon global,” kata Liu.

Dukungan tersebut selaras dengan upaya pemerintah Indonesia dalam menarik investasi asing untuk mempercepat transisi energi nasional.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto sebelumnya telah mengajak perusahaan asal Cina untuk berinvestasi dalam proyek PLTS 100 GW tersebut.

Ajakan ini disampaikan Airlangga saat melakukan pertemuan dengan Menteri Perdagangan Cina Wang Wentao di Shanghai pada pertengahan Juli lalu.

Dalam pertemuan bilateral tersebut, kedua pihak membahas penguatan kerja sama ekonomi, perdagangan, investasi, serta kerja sama regional.

Dikutip dari Antara, Airlangga menekankan pentingnya pengalaman Cina dalam mendukung proyek energi bersih di Indonesia.

“Indonesia mengapresiasi keterlibatan investasi Cina dalam pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya Terapung Cirata,” kata Airlangga.

Pemerintah menilai proyek PLTS Terapung Cirata menjadi bukti nyata besarnya potensi kerja sama antara Indonesia dan Cina dalam mendukung transisi energi ke depan.

Kepingan emas batangan dengan latar belakang grafik pasar keuangan yang menunjukkan tren harga
Ecozone

Harga emas dunia menguat tipis pada perdagangan Jumat (9/10/2026), setelah sempat menyentuh level terendah dalam dua bulan pada Rabu (7/10/2026). Pergerakan emas dipengaruhi kekhawatiran inflasi Amerika Serikat (AS) yang masih tinggi serta prospek kenaikan suku bunga bank sentral AS, Federal Reserve (The Fed). Mengutip Reuters, harga emas spot naik 0,3% menjadi US$ 4.147,77 per ons troi pada pukul 00.43 GMT. Sementara…

Gedung Federal Reserve di Washington DC dengan latar belakang bendera Amerika Serikat
Ecozone

Risiko inflasi yang masih berada di atas target 2% membuat Federal Reserve (The Fed) tetap membuka peluang kenaikan suku bunga acuan Amerika Serikat (AS) sebelum akhir 2026. Hal tersebut tercermin dalam risalah rapat Federal Open Market Committee (FOMC) 15–16 September 2026 yang dirilis pada Rabu (7/10/2026). Dalam rapat tersebut, The Fed menaikkan suku bunga acuan ke kisaran 3,75%–4,00%. Mayoritas pejabat The Fed menilai…