Berita

BMKG Prediksi Puncak Kemarau, 80 Persen Wilayah Alami Kekurangan Hujan

80
×

BMKG Prediksi Puncak Kemarau, 80 Persen Wilayah Alami Kekurangan Hujan

Sebarkan artikel ini
3955a6594c9f73e661bc5a7979241490.jpg
3955a6594c9f73e661bc5a7979241490.jpg

Jakarta, Fenesia.com – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memberikan peringatan keras terkait ancaman kekeringan ekstrem yang bakal melanda sebagian besar wilayah Indonesia dalam beberapa bulan ke depan.

Ancaman ini muncul akibat sinergi antara puncak musim kemarau dengan fenomena iklim El Nino yang terus menunjukkan tren penguatan.

Kondisi tersebut diprediksi akan berdampak signifikan terhadap sektor ketahanan pangan nasional secara luas.

Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, menyatakan bahwa penguatan fenomena El Nino akan memicu pemangkasan curah hujan secara drastis di hampir seluruh pelosok tanah air.

Dampak langsung dari fenomena ini adalah durasi musim kemarau yang jauh lebih panjang serta intensitas kekeringan yang melampaui kondisi normal tahunan.

Berdasarkan data pemantauan iklim terbaru, BMKG mencatat bahwa hingga pertengahan Juni, sebanyak 37,6 persen zona musim di Indonesia telah resmi memasuki masa kemarau.

Lebih lanjut, sekitar 47,16 persen wilayah Indonesia saat ini sudah mengalami curah hujan dengan intensitas di bawah angka normal.

Tren penurunan curah hujan ini diproyeksikan akan terus meluas secara signifikan pada periode Juli hingga Oktober mendatang.

BMKG memprediksi lebih dari 80 persen wilayah Indonesia bakal mengalami kondisi curah hujan di bawah normal dalam kurun waktu tersebut.

Puncak periode kering sendiri diperkirakan terjadi pada rentang waktu Juli hingga September tahun ini.

Menanggapi situasi krusial tersebut, Ardhasena Sopaheluwakan mendesak para pelaku sektor pertanian untuk segera mengambil langkah mitigasi guna menekan risiko gagal panen akibat krisis air.

“Beberapa langkah yang sangat penting untuk segera diterapkan, antara lain menyesuaikan jadwal tanam, mengoptimalkan penggunaan varietas tanaman yang tahan terhadap kondisi kering dan berumur genjah, serta melakukan diversifikasi tanaman pangan,” ujarnya dikutip dari keterangan resmi, Jumat (3/7).

Strategi adaptasi tersebut dianggap sebagai kunci utama dalam menjaga stabilitas produksi pangan di tengah tekanan iklim yang ekstrem.

Selain sektor pertanian, BMKG juga meminta seluruh lapisan masyarakat di berbagai daerah untuk mulai melakukan langkah antisipasi mandiri.

Masyarakat diharapkan memahami karakteristik wilayah masing-masing, mengingat dampak El Nino tidak akan dirasakan secara merata di seluruh wilayah Indonesia.

Pihak otoritas meteorologi berkomitmen untuk terus memantau perkembangan iklim, baik dalam skala regional maupun global.

BMKG akan secara konsisten memperbarui informasi prakiraan cuaca setiap 10 hari sekali kepada publik.

Langkah ini dilakukan untuk memastikan pemerintah daerah dan masyarakat memiliki data akurat dalam merencanakan aktivitas selama puncak musim kemarau berlangsung.

Koordinasi antarinstansi menjadi sangat vital untuk meminimalisir potensi kerugian ekonomi maupun sosial akibat fenomena iklim ini.