Ecozone

Menjaga Kelestarian Sulam Kasab Aceh Bersama Holding Ultra Mikro BRI

5
×

Menjaga Kelestarian Sulam Kasab Aceh Bersama Holding Ultra Mikro BRI

Sebarkan artikel ini
Asra, perajin sulam kasab asal Aceh, sedang menekuni kerajinan sulam manik-manik tradisional dengan penuh ketelitian.
Asra terus berupaya melestarikan kerajinan sulam kasab Aceh yang telah ia tekuni sejak tahun 1990.

Kuala Baru, Aceh – Perajin sulam kasab, Asra, berhasil mempertahankan tradisi kerajinan tangan lokal sekaligus menggerakkan ekonomi masyarakat melalui pengembangan usaha yang ia tekuni sejak tahun 1990 hingga Senin (21/9/2026).

Dilansir dari laporan terkait, Asra yang kini berusia 63 tahun berupaya menjaga identitas budaya Aceh dengan memproduksi sulam manik-manik kasab yang memerlukan ketelitian tinggi dan proses pengerjaan manual yang rumit.

Tantangan utama dalam mempertahankan kerajinan tradisional ini terletak pada durasi pengerjaan yang lama serta keterampilan khusus yang kian jarang dimiliki oleh generasi muda.

“Awalnya usaha ini berangkat dari budaya sulam benang kasab yang memang sudah menjadi tradisi di daerah kami,” kata Asra.

Ia menjelaskan bahwa penurunan minat warga untuk membuat sulam sendiri memicu munculnya peluang usaha bagi dirinya untuk menerima pesanan secara profesional.

“Karena proses pembuatannya cukup lama dan membutuhkan ketelitian, lambat laun banyak warga yang lebih memilih membeli sulam manik-manik kasab daripada membuatnya sendiri,” ujar Asra.

Proses produksi sulam kasab menuntut kesabaran ekstra karena setiap tarikan benang harus dilakukan dengan hati-hati untuk memastikan kerapian pola.

“Keunikan usaha ini ada pada proses pembuatannya yang cukup rumit,” kata Asra.

“Setiap tarikan benang membutuhkan ketelitian dan kesabaran ekstra,” tambah Asra.

“Tidak bisa dikerjakan terburu-buru karena setiap bagian harus dibuat dengan hati-hati supaya hasilnya rapi dan bagus,” ujar Asra.

Untuk mendukung keberlangsungan usahanya, Asra menjadi nasabah PNM Mekaar pada tahun 2020 guna mendapatkan akses permodalan yang digunakan untuk pembelian bahan baku.

“Alhamdulillah, tambahan modal tersebut membantu saya untuk tetap menjalankan usaha dan memenuhi kebutuhan produksi,” kata Asra.

Selain bantuan finansial, ia juga mendapatkan pendampingan berupa pelatihan teknis mengenai benang kasab yang diselenggarakan di Kuala Baru.

Peningkatan kapasitas produksi ini berdampak positif bagi masyarakat sekitar melalui pembukaan lapangan kerja bagi warga yang ingin memperoleh penghasilan tambahan.

Keberhasilan Asra merupakan cerminan dari efektivitas Holding Ultra Mikro (UMi) yang mengintegrasikan layanan BRI, Pegadaian, dan PNM.

Sistem ini dirancang untuk memperdalam akses keuangan sekaligus memberikan pendampingan berkelanjutan bagi pelaku usaha ultra mikro di seluruh Indonesia.

Corporate Secretary BRI, Dhanny, menyatakan bahwa integrasi pembiayaan dan pemberdayaan menjadi kunci keberhasilan ekosistem ultra mikro.

“Pelaku usaha seperti Ibu Asra menunjukkan bahwa ketika akses pembiayaan dipadukan dengan pendampingan dan semangat untuk terus berkembang, usaha ultra mikro dapat memberikan manfaat yang jauh melampaui pemilik usahanya sendiri,” kata Dhanny.

Melalui upaya tersebut, Asra tidak hanya mampu menopang ekonomi keluarga, tetapi juga memastikan keterampilan tradisional khas Aceh tetap terjaga di tengah modernisasi industri.

Menteri Ketenagakerjaan Yassierli memberikan keterangan terkait kebijakan upah minimum di Jakarta.
Ecozone

Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) Yassierli belum dapat memastikan formulasi kenaikan UMP 2027 karena menunggu pembahasan Rancangan Undang-Undang (RUU) Pelindungan Ketenagakerjaan.