Ecozone

Suku Bunga The Fed Berpotensi Naik, IHSG Terancam ke 6.000

1
×

Suku Bunga The Fed Berpotensi Naik, IHSG Terancam ke 6.000

Sebarkan artikel ini
Tampilan layar grafik pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan di bursa efek.
IHSG menghadapi tekanan pasar menjelang pengumuman kenaikan suku bunga The Fed.

Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menghadapi tekanan pasar yang signifikan pada Rabu (16/9/2026) menjelang pengumuman keputusan kenaikan suku bunga acuan oleh bank sentral Amerika Serikat, The Federal Reserve, sebesar 25 basis poin ke kisaran 3,75% hingga 4,00%.

Dikutip dari laporan pasar keuangan, Head of Research Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Rully Arya Wisnubroto, menyatakan bahwa pergerakan nilai tukar rupiah akan menjadi penentu utama respons kebijakan Bank Indonesia setelah keputusan The Fed tersebut diumumkan.

Kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin tersebut secara teknis telah diantisipasi oleh pelaku pasar, namun perhatian kini tertuju pada stabilitas mata uang domestik yang menjadi faktor krusial bagi ruang gerak otoritas moneter nasional.

IHSG tercatat telah mengalami re-rating sebesar 18% sejak awal semester II 2026, sehingga kenaikan indeks lebih lanjut memerlukan dukungan pertumbuhan laba emiten serta arus modal asing yang lebih konsisten.

Saat ini, aliran dana asing masih cenderung terkonsentrasi pada saham-saham berkapitalisasi besar, khususnya di sektor perbankan dan komoditas.

Financial Educator Manager Sucor Sekuritas, Hendry Wijaya, menyebut bahwa meskipun potensi tekanan jangka pendek tetap ada, dampak aktual dari kenaikan suku bunga tersebut diperkirakan terbatas karena probabilitas pasar telah mencapai 92%.

Menurut Hendry, arah kebijakan pasar ke depan justru lebih dipengaruhi oleh pernyataan Ketua The Fed, Kevin Warsh, mengenai apakah langkah ini merupakan kenaikan terakhir atau awal dari siklus pengetatan moneter yang lebih panjang.

Tantangan bagi IHSG dalam jangka menengah bersumber dari imbal hasil US Treasury yang bertahan di level 5%, yang menyebabkan selisih imbal hasil dengan obligasi Indonesia semakin sempit dan mengurangi daya tarik aset domestik bagi investor asing.

Posisi rupiah yang berada di level Rp 17.694 per dolar AS turut membatasi ruang kebijakan Bank Indonesia dalam melakukan pemangkasan suku bunga, sehingga sektor perbankan sebagai penopang utama IHSG berisiko tetap tertekan.

Tekanan pasar diperkirakan akan terus berlanjut selama harga minyak dunia bertahan di atas level US$ 100 per barel dan imbal hasil US Treasury tetap berada di kisaran 5%.

Dalam jangka panjang, pergerakan IHSG diproyeksikan akan kembali bergantung pada fundamental domestik, termasuk kredibilitas fiskal di bawah kepemimpinan Menteri Keuangan Suahasil Nazara serta pertumbuhan kinerja emiten.

Koreksi IHSG sebesar 25% sepanjang tahun ini dinilai telah menciptakan margin of safety bagi investor berhorizon investasi jangka panjang karena valuasi saham yang secara historis sudah murah.

Dalam skenario pesimistis, Hendry memproyeksikan IHSG berpotensi turun ke kisaran 6.000 hingga 6.150 jika The Fed bersikap hawkish dan memicu outflow asing yang masif serta pelemahan rupiah hingga menembus level Rp 18.000.

Sementara dalam skenario moderat, IHSG diperkirakan akan berkonsolidasi di rentang 6.290 hingga 6.460 jika kenaikan suku bunga sesuai dengan ekspektasi awal tanpa adanya sinyal pengetatan lanjutan.

Investor disarankan untuk memantau tiga indikator utama yakni imbal hasil US Treasury, nilai tukar rupiah, dan harga minyak dunia sebagai sinyal pembalikan arah pasar.

Strategi investasi yang disarankan adalah memanfaatkan volatilitas untuk melakukan akumulasi bertahap pada saham-saham dengan fundamental kuat, seperti PT Triputra Agro Persada Tbk, PT Amman Mineral Internasional Tbk, PT Bumi Resources Minerals Tbk, PT Erajaya Swasembada Tbk, PT Bumi Resources Tbk, PT Puradelta Lestari Tbk, PT Eagle High Plantations Tbk, PT Bukit Asam Tbk, dan PT Aneka Tambang Tbk.

Penafian: Keputusan investasi sepenuhnya merupakan tanggung jawab investor dan artikel ini bukan merupakan ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu.