Ecozone

Selain China, Ini 5 Negara Asal Impor Terbesar ke Indonesia

4
×

Selain China, Ini 5 Negara Asal Impor Terbesar ke Indonesia

Sebarkan artikel ini
Aktivitas bongkar muat peti kemas di pelabuhan utama Indonesia untuk kebutuhan industri nasional.
Aktivitas bongkar muat di pelabuhan meningkat seiring lonjakan nilai impor Indonesia untuk kebutuhan bahan baku industri.

Jakarta – Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan lonjakan nilai impor Indonesia sebesar 19,94% secara bulanan menjadi US$ 16,333 miliar pada Jumat (4/9/2026) sebagai respons atas meningkatnya kebutuhan bahan baku industri dalam negeri.

Dilansir dari data resmi BPS, peningkatan arus masuk barang dari luar negeri ini dipicu oleh tingginya permintaan sektor manufaktur nasional terhadap pasokan non-migas.

Lonjakan pasokan barang impor tersebut berbanding lurus dengan geliat aktivitas produksi di berbagai pelabuhan utama di seluruh Indonesia.

Kelompok barang yang paling banyak didatangkan meliputi mesin, peralatan mekanis, mesin perlengkapan elektrik, bahan kimia organik, serta besi dan baja.

Kenaikan volume impor ini menegaskan eratnya keterkaitan antara industri domestik dengan jaringan rantai pasok global yang beroperasi saat ini.

Ketimpangan antara kapasitas produksi dalam negeri dan kebutuhan industri menjadi faktor utama yang mendorong ketergantungan terhadap barang modal impor.

BPS menetapkan lima mitra dagang utama yang mendominasi arus masuk barang ke pasar Indonesia berdasarkan data kinerja perdagangan internasional.

Tiongkok menempati posisi pertama dengan nilai impor non-migas mencapai US$ 58,29 miliar atau setara 42,38% dari total impor non-migas nasional.

Komoditas utama yang dipasok oleh Tiongkok terdiri dari mesin, perlengkapan elektrik, serta berbagai produk berbahan dasar plastik.

Jepang berada di urutan kedua dengan kontribusi nilai impor sebesar US$ 7,71 miliar atau mencakup 5,61% dari total transaksi.

Pasokan dari Jepang didominasi oleh mesin, peralatan mekanis, serta kendaraan beserta komponen pendukungnya.

Australia menempati posisi ketiga dengan nilai transaksi sebesar US$ 6,47 miliar atau menyumbang sekitar 4,7% dari total pembelian luar negeri.

Komoditas unggulan dari Australia meliputi logam mulia, perhiasan, permata, serealia, hingga bahan bakar mineral.

Kawasan ASEAN dan Uni Eropa juga tercatat sebagai kontributor utama yang menyuplai berbagai kebutuhan produk industri ke pasar dalam negeri.

Ketersediaan bahan baku dari mitra dagang strategis ini dinilai krusial untuk menjaga keberlangsungan operasional pabrik-pabrik lokal yang belum mampu memproduksi komponen secara mandiri.

Namun, masuknya barang impor dalam jumlah besar menimbulkan kekhawatiran terkait potensi banjir produk jadi yang dapat menekan daya saing industri kecil dan menengah.

Pemerintah kini dituntut untuk menyeimbangkan perlindungan industri domestik dengan kelancaran arus barang modal melalui instrumen tarif dan pengawasan standar kualitas.

Penguatan sektor industri hulu di dalam negeri menjadi langkah strategis yang diperlukan guna menekan ketergantungan terhadap impor di masa mendatang.

Objektivitas kebijakan perdagangan akan terus diawasi untuk memastikan bahwa lonjakan impor memberikan dampak positif bagi pertumbuhan ekonomi nasional secara keseluruhan.