Sentul – Partai Solidaritas Indonesia (PSI) memberikan respons positif terhadap pernyataan Presiden Prabowo Subianto.
Pernyataan itu terkait persatuan nasional dan kepemimpinan inklusif.
Hal itu disampaikan Prabowo dalam kegiatan di Sentul, Senin, 2 Februari 2026.
PSI menilai pesan Prabowo relevan dengan kehidupan demokrasi.
Juru Bicara DPP PSI, Dedek Prayudi, menyebut pernyataan Prabowo mencerminkan kedewasaan berbangsa.
“Persaingan politik memang niscaya dalam sistem demokrasi, namun selayaknya tidak menghasilkan polarisasi tanpa ujung yang justru merontokkan energi kolektif,” kata Dedek, Selasa, 3 Februari 2026.
Dedek menilai ajakan Prabowo untuk meredam polarisasi pascaproses politik perlu dimaknai sebagai upaya menjaga stabilitas nasional.
Menurutnya, persaingan politik adalah bagian dari demokrasi.
Namun, tidak seharusnya berujung pada polarisasi berkepanjangan yang menghambat kerja bersama.
Dedek menambahkan, persoalan kemiskinan masih menjadi tantangan utama yang membutuhkan kerja sama lintas kelompok.
Komitmen Prabowo untuk memimpin secara inklusif diharapkan dapat menjaga kepercayaan publik.
Selain itu, juga mengarahkan fokus pemerintah pada pelayanan kepada masyarakat.
Meski demikian, PSI menegaskan pentingnya ruang kritik dalam demokrasi.
“Kritik tetap diperlukan sebagai bagian dari proses penyempurnaan kebijakan dan kinerja pemerintah. Tanpa kritik, evaluasi tidak akan berjalan optimal,” ucapnya.
Dalam arahannya pada Rapat Koordinasi Nasional Pemerintah Pusat dan Daerah di Sentul, Prabowo mengajak seluruh elemen bangsa.
Prabowo mengajak tanpa memandang latar belakang politik, untuk bekerja sama mengatasi kemiskinan.
Prabowo menekankan bahwa persaingan politik merupakan hal yang wajar dalam demokrasi.
Setelah proses tersebut selesai, seluruh pihak diharapkan kembali bersatu untuk melayani kepentingan rakyat.
Ia juga menegaskan komitmen untuk memimpin secara inklusif dan adil, tanpa membedakan latar belakang politik.






