Ecozone

MBSS Ganti Nahkoda, Wibowo Group Bidik Ekspansi Pelayaran dan Logistik

135
×

MBSS Ganti Nahkoda, Wibowo Group Bidik Ekspansi Pelayaran dan Logistik

Sebarkan artikel ini
Gedung Bursa Efek Indonesia di Jakarta tempat transaksi saham MBSS berlangsung
Wibowo Group resmi mengambil alih kendali PT Mitrabahtera Segara Sejati Tbk melalui transaksi saham di Bursa Efek Indonesia.

Jakarta – PT Wibowo Group Capital (WGC) resmi mengambil alih posisi pengendali emiten pelayaran energi PT Mitrabahtera Segara Sejati Tbk (MBSS) dari PT Galley Adhika Arnawama (Grup Daidan) melalui transaksi jual beli saham senilai Rp 4,2 triliun pada Senin (3/8/2026).

Dilansir dari Katadata.co.id, transaksi ini dilakukan melalui mekanisme crossing di Pasar Negosiasi Bursa Efek Indonesia dengan mengakuisisi 1,44 miliar saham atau setara 82,5% dari modal ditempatkan dan disetor penuh perusahaan.

Perubahan pemegang saham pengendali ini dilakukan di tengah tantangan kinerja keuangan MBSS yang mencatatkan penurunan pendapatan usaha sebesar 15,1% pada semester pertama tahun ini akibat melemahnya bisnis penyewaan kapal.

WGC, yang didirikan oleh ultimate beneficial owner Andy Wibowo, merupakan perusahaan induk yang memiliki fokus investasi pada sektor pembangunan serta perawatan berbagai jenis kapal.

Strategi akuisisi ini bertujuan untuk mengembangkan bisnis pada segmen pengangkutan komoditas curah serta jasa pendukung logistik maritim guna memperkuat ekosistem bisnis perusahaan.

Andy Wibowo juga tercatat sebagai pemilik PT Gandasari Group yang memiliki portofolio bisnis di sektor pertambangan, pelayaran, jasa pelabuhan, dan teknik kelautan.

Sinergi antara kedua grup perusahaan tersebut dinilai memiliki irisan kuat, mengingat Gandasari Group saat ini mengoperasikan sekitar 185 unit kapal.

Di sisi lain, MBSS saat ini mengoperasikan armada yang terdiri dari empat speedboat, 20 kapal tunda, tongkang, floating crane, serta berbagai peralatan perkapalan pendukung lainnya.

Integrasi usaha ini rencananya akan dilakukan secara bertahap dengan tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian, tata kelola perusahaan yang baik (GCG), serta kepatuhan terhadap seluruh regulasi yang berlaku.

Kinerja operasional MBSS pada semester pertama 2026 menunjukkan tekanan dengan pendapatan dari jasa angkutan laut berdasarkan muatan turun menjadi Rp 403,29 miliar dari Rp 474,41 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Pendapatan berdasarkan waktu juga mengalami penyusutan menjadi Rp 3,58 miliar dibandingkan periode tahun lalu yang mencapai Rp 4,85 miliar.

Beban pokok pendapatan tercatat naik menjadi Rp 315,48 miliar dari Rp 294,82 miliar, sementara beban umum dan administrasi meningkat menjadi Rp 48,19 miliar.

Meskipun pendapatan usaha menurun, perseroan berhasil membukukan keuntungan selisih kurs sebesar Rp 82,88 miliar, berbanding terbalik dengan kerugian Rp 35,63 miliar pada periode sebelumnya.

Hasil tersebut membuat laba bersih MBSS masih mampu mencatatkan kenaikan tipis menjadi Rp 203,79 miliar dari Rp 202,94 miliar pada semester pertama 2025.

Pasar saat ini menantikan apakah akuisisi ini akan memicu kewajiban Penawaran Tender Wajib bagi pemegang saham publik sesuai dengan ketentuan POJK No. 9/POJK.04/2018.

Sekretaris Perusahaan MBSS Emy Oktavia mengonfirmasi bahwa setelah penyelesaian transaksi, pihak penjual tidak lagi menjadi pemegang saham mayoritas perseroan.

“Setelah penyelesaian atas transaksi ini, Penjual tidak lagi menjadi pemegang saham mayoritas Perseroan dan pelaksanaan Transaksi tidak berdampak material terhadap kegiatan usaha Perseroan,” kata Emy.

Manajemen menegaskan bahwa WGC wajib melaksanakan penawaran tender kecuali jika terdapat pengecualian berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.