BeritaEcozone

Ekonomi Indonesia Melambat, Pemerintah Siapkan Jurus Pemulihan

131
×

Ekonomi Indonesia Melambat, Pemerintah Siapkan Jurus Pemulihan

Sebarkan artikel ini
luhut binsar pandjaitan dalam acara cnbc indonesia economic outlook dengan tema menuju pemulihan ekonomi indonesia 2021 cnbc i 7 169
Foto : Internet

FENESIA – Indonesia menghadapi tantangan ekonomi yang cukup signifikan. Luhut Binsar Pandjaitan, Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN), menyampaikan informasi mengenai pertumbuhan ekonomi kuartal pertama. Pertumbuhan ekonomi tercatat hanya 4,87%.

Angka ini menunjukkan penurunan jika membandingkannya dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya. Luhut mengungkapkan bahwa tren ini pernah terjadi sebelumnya.

Perlambatan Ekonomi Jadi Pola Transisi Pemerintahan

Luhut menyampaikan melalui akun Instagram resminya pada Rabu (7/5) bahwa perlambatan mungkin terjadi dalam masa penyesuaian seperti ini. Menurutnya, perlambatan ekonomi selama masa transisi pemerintahan merupakan pola yang lazim. Namun, Luhut tidak mengabaikan beberapa faktor krusial yang menyebabkan penurunan ini. Salah satunya adalah kontraksi pada konsumsi pemerintah.

“Percepatan belanja negara menjadi kunci utama untuk mendorong pemulihan ekonomi,” tegasnya.

Pemerintah mengandalkan salah satu inisiatif penting dalam upaya percepatan tersebut, yaitu Program Makan Bergizi (MBG). Program ini tidak hanya bertujuan meningkatkan asupan gizi masyarakat. Selain itu, program ini dirancang sebagai pemicu penggerak ekonomi di tingkat desa. Pemerintah mengalokasikan dana sebesar Rp171 triliun ke 70 ribu desa. Dengan alokasi dana ini, pemerintah berharap tercipta efek domino dalam perekonomian lokal.

“Program ini akan membangkitkan simpul ekonomi desa, mulai dari petani sayur hingga peternak ayam,” jelas Luhut.

Penjual telur dan pelaku UMKM lokal juga akan ikut bergerak. Ia memproyeksikan bahwa membangun ekosistem pendukung program ini secara menyeluruh memerlukan waktu sekitar enam bulan hingga satu tahun.

Namun, di luar belanja pemerintah, beberapa hal tetap menjadi catatan penting. Konsumsi rumah tangga belum pulih sepenuhnya. Investasi juga masih stagnan. Tekanan ekspor terjadi akibat kondisi global. Selain itu, pertumbuhan ekonomi belum merata antar wilayah. Menurut Luhut, semua ini memerlukan pendekatan simultan antara pemerataan dan percepatan.

Dalam konteks global, ketidakpastian semakin parah akibat perang dagang antar negara besar. Oleh karena itu, Luhut mengajak semua pihak untuk tidak saling menyalahkan. Ia menekankan pentingnya untuk saling memperkuat. “Kita butuh kerja nyata, kolaborasi lintas sektor, serta keberanian mengambil keputusan penting,” ujarnya.

Luhut juga mengingatkan tentang pentingnya arahan Presiden Prabowo Subianto. Arahan tersebut menekankan penyederhanaan regulasi, penguatan kemitraan dagang, dan perlindungan terhadap masyarakat kecil. “Ekonomi ini harus bergerak bersama—dari desa hingga pusat, dari bawah ke atas,” pungkasnya dengan optimis.

Sebelumnya, Ketua DEN Luhut Binsar Pandjaitan menginginkan family office bisa berdiri di Indonesia bulan depan. Pasalnya, saat ini Indonesia dinilai sudah tertinggal dari Malaysia.

Sementara itu, Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I 2025. Pertumbuhan tercatat sebesar 4,87% jika membandingkannya dengan periode yang sama tahun sebelumnya (year-on-year). Kepala BPS, Amalia Adininggar Widyasanti, menyatakan bahwa produk domestik bruto (PDB) Indonesia mencapai Rp 5.665,9 triliun berdasarkan harga berlaku. PDB berdasarkan harga konstan tercatat sebesar Rp 3.264,5 triliun.

“Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I-2025 adalah sebesar 4,87% bila membandingkannya dengan kuartal I-2024 atau secara year-on-year,” ungkap Amalia dalam konferensi pers di Jakarta pada Senin (5/5/2025).

Amalia menjelaskan bahwa kontraksi ekonomi yang terjadi secara kuartalan (quarter-to-quarter) pada kuartal I merupakan fenomena musiman. Ia menambahkan bahwa aktivitas ekonomi cenderung melambat pada awal tahun. Hal ini jika membandingkannya dengan akhir tahun sebelumnya. Oleh karena itu, penurunan pada kuartal pertama ini sesuai dengan tren historis.

“Pertumbuhan ekonomi kuartal I-2025 ini sejalan dengan pola yang terjadi di tahun-tahun sebelumnya,” jelasnya. Ia menambahkan bahwa pada setiap kuartal pertama, pertumbuhan relatif selalu lebih rendah jika membandingkannya dengan kuartal IV tahun sebelumnya.

Dari segi lapangan usaha, hampir semua sektor mencatatkan pertumbuhan positif pada kuartal I-2025 secara tahunan. Namun, terdapat satu sektor yang mengalami kontraksi, yaitu pertambangan. “Pada kuartal I-2025 secara year-on-year, seluruh lapangan usaha tumbuh positif kecuali lapangan usaha pertambangan,” tutur Amalia.