Jakarta – PT United Tractors Tbk (UNTR) secara resmi menyatakan ketertarikan untuk memperluas portofolio bisnis pertambangan dengan membidik sektor mineral tembaga sebagai salah satu komoditas strategis pada Senin (7/9/2026).
Dilansir dari paparan publik perusahaan, Presiden Direktur United Tractors, Iwan Hadiantoro, mengonfirmasi bahwa perusahaan tengah mempertimbangkan diversifikasi aset ke sektor logam dasar meskipun belum ada proyek konkret di dalam daftar rencana kerja saat ini.
“Rencana ada, tetap tembaga merupakan salah satu komoditas yang kami pertimbangkan, namun untuk saat ini belum ada proyek tembaga di pipeline United Tractors,” kata Iwan.
Strategi investasi perseroan ke depan tetap akan memprioritaskan sektor pertambangan mineral yang mencakup emas, nikel, serta logam dasar lainnya guna menyeimbangkan portofolio bisnis yang selama ini didominasi oleh alat berat dan batu bara.
Manajemen menegaskan bahwa setiap akuisisi baru di masa mendatang harus memiliki skala operasional yang signifikan serta valuasi yang sesuai dengan kriteria investasi ketat milik perusahaan.
“Nah tentunya untuk melihat size yang UT sudah besar saat ini, kami berharap bahwa bisnis-bisnis baru yang akan kami akuisisi itu cukup sizeable dan memiliki valuasi yang baik tentunya sesuai dengan kriteria investasi UT,” kata Iwan.
Dalam upaya memperluas jangkauan geografis, perusahaan saat ini memusatkan fokus pencarian aset tambang potensial di wilayah Indonesia dan Australia karena ketersediaan cadangan mineral yang melimpah di kedua negara tersebut.
“Jadi kami masih memfokuskan usaha merger dan akuisisi kami untuk Australia dan belum ada rencana untuk perkembangan di negara Asia lainnya,” kata Iwan.
Keputusan strategis untuk mencari aset baru ini diambil di tengah performa keuangan perseroan yang mengalami tekanan signifikan pada semester pertama tahun ini.
Data keuangan menunjukkan laba bersih perusahaan merosot tajam sebesar 80 persen menjadi Rp 642,75 miliar dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai Rp 3,18 triliun.
Pendapatan konsolidasi perseroan juga tercatat mengalami kontraksi sebesar 17 persen secara tahunan menjadi Rp 28,55 triliun dari posisi sebelumnya di angka Rp 34,26 triliun.
Penurunan kinerja tersebut dipicu oleh nihilnya penjualan emas dari PT Agincourt Resources serta lesunya segmen mesin konstruksi dan kontraktor penambangan akibat penurunan alokasi rencana kerja dan anggaran biaya batu bara nasional.
Di sisi lain, tekanan pendapatan berhasil diredam oleh pertumbuhan positif pada segmen pertambangan batu bara termal dan metalurgi yang terbantu oleh kenaikan harga rata-rata komoditas batu bara di pasar global.
Pendapatan dari segmen kontraktor penambangan tercatat sebesar Rp 11,9 triliun atau mengalami koreksi sebesar 6 persen.
Sementara itu, segmen pertambangan batu bara termal dan metalurgi berhasil mencatatkan pertumbuhan pendapatan sebesar 13 persen menjadi Rp 8 triliun.
Sebaliknya, segmen mesin konstruksi mengalami penurunan pendapatan sebesar 31 persen menjadi Rp 7,5 triliun.
Kinerja segmen pertambangan emas dan mineral lainnya turut mengalami pelemahan signifikan dengan penurunan pendapatan sebesar 76 persen menjadi Rp 692 miliar.







