Ecozone

17 Ribu Titik Panas Ancam Habitat Orangutan Borneo dan Ekosistem

11
×

17 Ribu Titik Panas Ancam Habitat Orangutan Borneo dan Ekosistem

Sebarkan artikel ini
Seekor orangutan di habitat hutan Kalimantan yang terdampak kabut asap akibat kebakaran lahan.
Kebakaran hutan yang memicu belasan ribu titik panas mengancam kelangsungan hidup orangutan di Kalimantan.

Kalimantan – Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat mengonfirmasi kematian satu individu orangutan jantan dewasa akibat paparan asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi sepanjang Jumat (4/9/2026).

Dilansir dari laporan organisasi lingkungan Geopix, lonjakan titik panas atau hotspot menjadi penyebab utama degradasi habitat satwa terancam punah tersebut.

Data Geopix mencatat sebanyak 17.375 hotspot dengan tingkat kepercayaan rendah hingga tinggi terdeteksi di habitat orangutan Kalimantan sepanjang Agustus 2026.

Jumlah tersebut menunjukkan peningkatan signifikan jika dibandingkan dengan akumulasi hotspot pada periode Juni hingga Juli yang tercatat sebanyak 14.150 titik.

Senior Wildlife Campaigner Geopix, Annisa Rahmawati, menyatakan bahwa kegagalan mitigasi karhutla berdampak langsung pada hilangnya hak atas lingkungan sehat bagi manusia maupun satwa liar.

“Krisis ini adalah pukulan terberat bagi kita, tidak hanya bagi manusia, tetapi juga satwa liar di dalamnya,” kata Annisa Rahmawati.

Pemantauan satelit menunjukkan bahwa 25 juta hektare dari total 42,8 juta hektare habitat orangutan Kalimantan saat ini berada dalam wilayah yang berpotensi mengalami kebakaran.

Kawasan Muller-Schwaner, Western Schwaner, dan Seruyan-Sampit dikategorikan dalam kondisi kritis karena populasi orangutan yang minim sehingga sangat rentan terhadap kepunahan.

Geopix merekomendasikan pembentukan tim pemadam kebakaran hutan, patroli cepat, serta pembuatan sekat bakar sebagai langkah tanggap darurat di area tersebut.

Kawasan Rungan River, Katingan, dan Gunung Palung berada pada tingkat kerentanan sedang yang memerlukan pengawasan ketat terhadap aktivitas pembukaan lahan.

Sementara itu, kawasan Belayan-Senyiur, Beratus, dan Sabangau disarankan untuk melakukan restorasi habitat serta edukasi masyarakat terkait bahaya membakar lahan.

Kebakaran hutan menyebabkan hilangnya pohon pakan dan tempat bersarang yang mengakibatkan rantai makanan orangutan terputus secara permanen.

Paparan asap karhutla juga mengganggu proses penyerbukan tanaman serta mengubah pola fenologi yang memaksa orangutan melakukan migrasi paksa.

Fragmentasi habitat akibat api menyebabkan wilayah jelajah orangutan menyempit, yang pada akhirnya memicu peningkatan risiko konflik dengan manusia.

Risiko kesehatan bagi orangutan meningkat karena paparan polutan asap memicu stres fisiologis dan respons inflamasi tubuh yang menurunkan daya tahan terhadap infeksi parasit.

Berdasarkan riset, orangutan cenderung mengurangi durasi perjalanan untuk menghemat energi saat terpapar asap dalam jangka waktu yang lama.

Kematian orangutan di Kalimantan Barat menjadi bukti nyata bahwa dampak kebakaran hutan melampaui kerusakan fisik lingkungan dan secara langsung mengancam kelangsungan hidup individu satwa.