Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan menguat pada perdagangan Rabu (25/3/2026) setelah libur panjang.
Ekonom keuangan, Hans Kwee, menyebut penundaan serangan AS ke Iran menjadi sentimen utama.
IHSG sempat dihentikan sementara (trading halt) pada sesi pertama Kamis (29/1/2026) pukul 09.30 WIB.
Namun, IHSG mampu memangkas koreksi di akhir sesi pertama.
Siang hari, IHSG anjlok 492 poin atau 5,91% ke level 7.828,47.
Tekanan pada IHSG dipicu kekhawatiran investor global soal transparansi kepemilikan saham di Indonesia.
Kekhawatiran ini disoroti oleh Morgan Stanley Capital International (MSCI).
Tercatat 720 saham turun, 65 naik, dan 22 tidak bergerak.
Nilai transaksi mencapai Rp 32,75 triliun dengan 42,91 miliar saham dalam 2,55 juta transaksi.
Hans memprediksi IHSG bergerak terbatas dengan support 7.100-7.000 dan resistance 7.250-7.349.
Volatilitas pasar keuangan global dipicu ketidakpastian perang AS-Israel vs Iran selama libur Lebaran.
Trump sempat mengancam menghancurkan fasilitas listrik Iran jika Selat Hormuz tidak dibuka dalam 48 jam.
Iran membalas dengan ancaman menghancurkan infrastruktur energi dan minyak di Teluk jika listriknya diserang.
Namun, Trump akhirnya menunda serangan militernya selama lima hari.
Pernyataan Trump mendorong penguatan bursa saham di Wall Street dan Eropa pada Senin (23/3).
“Pasar ekuitas Uni Eropa menguat setelah penundaan serangan Trump,” kata Hans.
Uni Eropa dan Asia sangat terpengaruh harga energi karena impor melalui Selat Hormuz.
Meski begitu, Hans menyebut pernyataan Trump soal pembicaraan konstruktif dibantah Iran.
Iran juga meluncurkan serangan baru ke Israel dan beberapa lokasi di Timur Tengah.







