Ecozone

Saham Emiten Danantara Tetap Prospektif Meski Kinerja IHSG Lesu

178
×

Saham Emiten Danantara Tetap Prospektif Meski Kinerja IHSG Lesu

Sebarkan artikel ini
78da44ff2e81a3d48a49adf052ce59f1.jpg
78da44ff2e81a3d48a49adf052ce59f1.jpg

Jakarta – Kinerja emiten di bawah naungan Danantara dinilai masih memiliki resiliensi di tengah tekanan pasar saham Indonesia. Meskipun Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatatkan penurunan signifikan sebesar 29,11% secara year to date (YTD), indeks IDXBUMN20 mencatat performa yang relatif lebih baik dengan koreksi sebesar 11,73% YTD.

Analis melihat bahwa pelemahan pasar saat ini merupakan fenomena menyeluruh yang dipicu oleh sentimen negatif terhadap saham-saham konglomerasi besar. Kondisi ini membuat saham BUMN turut tertekan meski secara fundamental masih terjaga.

Managing Director Research Samuel Sekuritas Indonesia, Harry Su, menjelaskan bahwa tekanan pada indeks BUMN lebih banyak dipengaruhi oleh faktor eksternal. Di antaranya adalah arus keluar modal asing (foreign outflow), pelemahan nilai tukar rupiah, serta ketidakpastian investor terkait arah kebijakan strategis Danantara dan alokasi dividen ke depan.

Dalam situasi pasar yang fluktuatif, investor disarankan untuk melakukan strategi selective buying. Fokus utama sebaiknya diarahkan pada emiten BUMN yang memiliki fundamental kokoh, visibilitas dividen yang jelas, serta katalis pertumbuhan yang konkret.

Kepala Riset Praus Capital, Marolop Alfred Nainggolan, menambahkan bahwa sektor perbankan, komoditas, dan telekomunikasi tetap menjadi pilihan utama bagi investor. Sebaliknya, sektor farmasi, semen, dan konstruksi atau karya dinilai masih menghadapi tantangan berat akibat kenaikan biaya operasional yang dipicu oleh pelemahan rupiah dan harga minyak.

Secara sektoral, emiten seperti PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM), PT Jasa Marga Tbk (JSMR), dan PT Elnusa Tbk (ELSA) dinilai menarik karena memiliki pendapatan berulang (recurring income) yang stabil. Harry Su merekomendasikan beli untuk ketiga saham tersebut dengan target harga masing-masing Rp 3.700 per saham untuk TLKM, Rp 4.476 per saham untuk JSMR, dan Rp 1.081 per saham untuk ELSA.

Di sisi lain, investor juga perlu mencermati momentum pasar. Meski dividen menjadi daya tarik utama saat ini, potensi keuntungan dari apresiasi harga saham (capital gain) diprediksi akan menjadi penopang utama saat pasar memasuki fase pemulihan.

Prospek emiten BUMN di sisa tahun 2026 diperkirakan masih bersifat mixed. Selain dukungan dari valuasi harga yang lebih murah, prospek belanja pemerintah diproyeksikan menjadi katalis positif. Namun, investor tetap harus mewaspadai risiko jangka pendek terkait suku bunga tinggi dan potensi perubahan kebijakan pemerintah.

Ilustrasi logo perusahaan PT Bhineka Inovasi Ketahanan Energi Tbk (BIKE) dan aktivitas pertambangan batu bara
Ecozone

PT Bhineka Inovasi Ketahanan Energi Tbk (BIKE) resmi mengakuisisi 72% saham PT Berau Usaha Mandiri (BUM) melalui PT Prambanan Nusantara Energi (PNE), anak perusahaan BIKE. Direktur BIKE, Winston Mulyadi mengatakan akuisisi ini bertujuan untuk mendukung pengembangan kegiatan usaha perusahaan serta memperluas portofolio usaha di bidang pertambangan. “Akuisisi ini diharapkan dapat mendukung pengembangan dan diversifikasi…

Kepingan emas batangan dengan latar belakang grafik pasar keuangan yang menunjukkan tren harga
Ecozone

Harga emas dunia menguat tipis pada perdagangan Jumat (9/10/2026), setelah sempat menyentuh level terendah dalam dua bulan pada Rabu (7/10/2026). Pergerakan emas dipengaruhi kekhawatiran inflasi Amerika Serikat (AS) yang masih tinggi serta prospek kenaikan suku bunga bank sentral AS, Federal Reserve (The Fed). Mengutip Reuters, harga emas spot naik 0,3% menjadi US$ 4.147,77 per ons troi pada pukul 00.43 GMT. Sementara…

Gedung Federal Reserve di Washington DC dengan latar belakang bendera Amerika Serikat
Ecozone

Risiko inflasi yang masih berada di atas target 2% membuat Federal Reserve (The Fed) tetap membuka peluang kenaikan suku bunga acuan Amerika Serikat (AS) sebelum akhir 2026. Hal tersebut tercermin dalam risalah rapat Federal Open Market Committee (FOMC) 15–16 September 2026 yang dirilis pada Rabu (7/10/2026). Dalam rapat tersebut, The Fed menaikkan suku bunga acuan ke kisaran 3,75%–4,00%. Mayoritas pejabat The Fed menilai…