Jakarta – Bank Indonesia (BI) bersama anggota Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) dan Kwarnas Pramuka menggelar Literasi Keuangan Indonesia Terdepan (LIKE IT) 2025. Acara ini bertujuan mengedukasi anak-anak Pramuka dan penyandang disabilitas tentang pengelolaan keuangan yang bijak.
Kegiatan ini bertepatan dengan peringatan Hari Pramuka setiap 14 Agustus.
Ratusan pelajar dari tingkat siaga hingga penegak (SD-SMA) mengikuti LIKE IT 2025. Para pimpinan KSSK memberikan materi komprehensif tentang menabung dan investasi.
Deputi Gubernur Senior BI, Destry Damayanti, menjelaskan sejarah uang dan lahirnya rupiah. Ia juga memaparkan proses perencanaan, percetakan, hingga peredaran uang.
“Setiap negara pasti punya mata uang dengan ciri khasnya. Uang bisa mencerminkan karakter negara,” ujar Destry di Bumi Perkemahan dan Graha Wisata (Buperta) Pramuka, Cibubur, Jakarta Timur, Kamis (14/8/2025).
Destry mengajak peserta untuk lebih memahami dan menjaga uang. Ia juga menekankan pentingnya rasa cinta terhadap rupiah.
“Di BI kita punya program ‘Cinta, Bangga, Paham Rupiah’. Uang jangan diremas, dicoret-coret, distapler, atau dibasahi,” tegasnya.
Ia menambahkan, rupiah memuat potret pahlawan dari seluruh Indonesia. Hal ini diharapkan menumbuhkan kebanggaan pada pelajar.
Destry menjelaskan, rupiah baru berlaku pada 2 November 1949. Sebelumnya, masyarakat Indonesia menggunakan mata uang Jepang dan Belanda.
“Kalian harus bangga karena tidak semua negara punya mata uang sendiri,” katanya.
Destry juga menekankan pentingnya memahami nilai uang. Ia mengajak pelajar untuk tidak menghambur-hamburkan uang.
“Kita perlu tahu bagaimana menggunakan rupiah. Jangan beli yang tidak dibutuhkan. Tabung sebagian, belanjakan seperlunya,” imbaunya.
“Anak muda adalah generasi penerus. Jaga kedaulatan rupiah. Mari cintai, bangga, dan paham bagaimana memanfaatkan rupiah,” pungkas Destry.







