Jakarta – Investor asing mencatatkan beli bersih sebesar Rp 2,22 triliun di pasar saham Indonesia selama periode 26 Agustus hingga 1 September 2026, yang didorong oleh akumulasi pada saham-saham perbankan berkapitalisasi besar, Rabu (2/9/2026).
Dilansir dari Mirae Asset Sekuritas Indonesia, nilai transaksi beli investor asing mencapai Rp 31,43 triliun, melampaui nilai transaksi jual yang berada di angka Rp 29,21 triliun.
Sebagian besar aliran dana asing masuk melalui pasar tunai dan negosiasi dengan nilai net buy sebesar Rp 1,93 triliun, sementara pasar reguler mencatatkan beli bersih sebesar Rp 297,24 miliar.
Saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) memimpin daftar beli bersih asing dengan nilai Rp 914,3 miliar, disusul PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) sebesar Rp 891,4 miliar, dan PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) senilai Rp 752,2 miliar.
Di sisi lain, investor asing melakukan aksi jual bersih pada saham PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN) sebesar Rp 646,9 miliar, PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS) senilai Rp 375,9 miliar, serta PT Indosat Tbk (ISAT) senilai Rp 248,1 miliar.
Penguatan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang mencapai 1,1% ke level 6.600 pada perdagangan 1 September 2026 dinilai mencerminkan perbaikan kepemimpinan pasar menuju saham-saham large-cap dengan likuiditas tinggi.
Kepastian kepemimpinan Bank Indonesia setelah DPR menyetujui Destry Damayanti sebagai Gubernur BI turut memberikan sentimen positif bagi pasar domestik.
Namun, pihak analis mengingatkan bahwa investor tetap harus mewaspadai perkembangan inflasi, permintaan domestik, serta kondisi pasar global yang dapat memengaruhi ruang penguatan IHSG lebih lanjut.
“Kami melihat backdrop domestik tetap konstruktif, meski kenaikan inflasi pangan dan tekanan yield global masih membatasi ruang bagi risk-on yang lebih agresif,” kata Head of Research and Chief Economist Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Rully Arya Wisnubroto.
Data menunjukkan inflasi Indonesia naik menjadi 3,2% secara tahunan pada Agustus 2026 dari 2,9% pada Juli, yang dipicu terutama oleh faktor pasokan seperti harga pangan dan emas.
Fixed Income Analyst Mirae Asset Sekuritas, Jessica Tasijawa, menyoroti potensi risiko inflasi hingga akhir tahun akibat gangguan pasokan pangan yang diperparah oleh fenomena El NiƱo.
Kondisi tersebut diperkirakan akan menekan pasokan di tengah peningkatan permintaan, termasuk dari ekspansi program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Mirae Asset Sekuritas memproyeksikan inflasi berada di kisaran 3% hingga 3,5% sepanjang 2026, dengan risiko kenaikan yang masih terbuka hingga awal 2027.
“Dapat membuat Bank Indonesia tetap berhati-hati dalam menjaga stabilitas inflasi dan Rupiah,” kata Jessica Tasijawa.
Pemulihan permintaan domestik dinilai belum merata, terbukti dari PMI manufaktur Indonesia yang kembali berada di zona kontraksi pada level 49,8 di bulan Agustus 2026.
Inflasi inti yang hanya naik tipis menjadi 1,93% secara tahunan menunjukkan bahwa kenaikan harga yang terjadi saat ini belum mencerminkan penguatan daya beli masyarakat secara solid.
Keberlanjutan reli IHSG ke depan akan sangat bergantung pada stabilitas nilai tukar rupiah, pergerakan imbal hasil obligasi global, serta efektivitas kebijakan dalam menjaga inflasi.







