Jakarta – Investor kawakan Lo Kheng Hong terpantau secara resmi memegang 2,04% saham emiten pengembang kawasan industri PT Bekasi Fajar Industrial Tbk (BEST) pada Rabu (2/9/2026).
Dilansir dari data kepemilikan saham di atas 1% Bursa Efek Indonesia, Lo Kheng Hong tercatat memiliki 196.833.600 lembar saham di perusahaan yang beroperasi di wilayah Bekasi tersebut.
Langkah investasi ini menjadikan BEST sebagai emiten sektor properti kedua yang berada dalam portofolio Lo Kheng Hong, setelah sebelumnya ia memiliki 7,43% saham di PT Intiland Development Tbk (DILD).
Selain Lo Kheng Hong, struktur kepemilikan saham BEST juga melibatkan sejumlah entitas besar seperti PT Agro Manunggal Land Development dengan porsi 48,13% dan Daiwa House Industry Co. Ltd sebesar 10%.
Pemegang saham lainnya mencakup PT IMC Pelita Logistik Tbk (PSSI) sebesar 2,03%, PT Kawasan Lintas Biru Digital sebesar 1,25%, serta beberapa investor perorangan seperti Rahman Kamaruddin dan Tan Alin Herawati.
Institusi keuangan lain yang juga tercatat sebagai pemegang saham adalah PT Asuransi Jiwa Manulife Indonesia, Reksa Dana Sucorinvest Sharia Equity Fund, dan PT Panin Sekuritas Tbk (PANS).
Meskipun harga saham BEST mengalami koreksi intraday sebesar 1,48% ke level Rp 133 per lembar, kinerja saham tersebut secara akumulatif sejak awal tahun mencatatkan lonjakan sebesar 19,82%.
Portofolio investasi Lo Kheng Hong sendiri cukup terdiversifikasi, mencakup berbagai sektor mulai dari keuangan melalui PT Clipan Finance Indonesia Tbk (CFIN) hingga sektor komoditas seperti PT ABM Investama Tbk (ABMM).
Kinerja fundamental BEST menunjukkan pemulihan signifikan dengan perolehan laba bersih sebesar Rp 144,32 miliar pada semester pertama 2026, berbanding terbalik dengan kerugian sebesar Rp 58,52 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Peningkatan laba bersih ini didorong oleh lonjakan pendapatan perseroan yang mencapai Rp 380,42 miliar, atau tumbuh 303,37% dibandingkan pendapatan periode sebelumnya yang hanya sebesar Rp 94,31 miliar.
Kontribusi pendapatan terbesar berasal dari segmen penjualan lahan sebesar Rp 265,23 miliar, disusul oleh pendapatan dari maintenance fee, biaya layanan air, dan sewa sebesar Rp 94,33 miliar.
Secara operasional, PT Bekasi Fajar Industrial Tbk (BEST) berfokus pada pengembangan kawasan industri MM2100 yang telah dihuni oleh sekitar 400 tenant dari 18 negara berbeda.
Kawasan industri ini memiliki total area pengembangan seluas 2.500 hektare yang dilengkapi dengan infrastruktur pendukung untuk kebutuhan operasional industri ringan hingga menengah.
Produk yang ditawarkan perusahaan meliputi lahan industri, ruang kantor di BeFa Square, hingga klaster pabrik siap pakai bernama BeFa Industrial Hub.
Fasilitas serviced office di BeFa Square menjadi salah satu layanan tambahan yang disediakan perusahaan untuk memfasilitasi operasional perusahaan di kawasan industri tersebut.
Strategi bisnis yang dijalankan BEST mencakup penyewaan pabrik dengan luas unit mulai dari 1.008 meter persegi guna memenuhi permintaan pasar akan ruang produksi yang fleksibel.
Keberhasilan BEST dalam melakukan turnaround keuangan menjadi sorotan pasar, terutama setelah laba per saham perseroan meningkat menjadi Rp 14,96 dari posisi negatif pada tahun sebelumnya.







