Jakarta – Pemerintah Indonesia tengah memperluas keterlibatan dalam rantai industri kecerdasan buatan (AI) melalui investasi strategis pada sektor pusat data, unit pemrosesan grafis (GPU), infrastruktur fiber optik, kabel bawah laut, hingga pengembangan model AI pada Selasa (1/9/2026).
Dilansir dari Katadata.co.id, pergeseran peta investasi global kini menuntut ketersediaan infrastruktur komputasi, energi, konektivitas, dan talenta digital sebagai daya tarik utama bagi investor asing dibandingkan sekadar menawarkan upah tenaga kerja yang murah.
Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Luhut Binsar Pandjaitan menyatakan bahwa upah buruh murah tidak lagi menjadi satu-satunya alasan utama dalam menarik investasi di tengah perkembangan pesat teknologi AI.
Menurut Luhut Binsar Pandjaitan, Indonesia harus bersikap selektif dengan memilih bagian dari ekosistem AI yang memiliki keunggulan kompetitif serta nilai ekonomi paling tinggi guna menghadapi dinamika kebijakan ekspor antara Amerika Serikat dan Cina.
Luhut Binsar Pandjaitan menegaskan bahwa Indonesia tidak mungkin menguasai seluruh rantai pasok, sehingga fokus harus diarahkan pada sektor seperti pusat data yang ditopang oleh energi terbarukan, termasuk potensi 8 gigawatt dari PLTA di Kalimantan Utara.
Pusat data di Indonesia kini mulai bertransformasi menjadi AI Factory yang mampu menangani beban kerja komputasi densitas tinggi dengan dukungan sistem pendinginan canggih dan jaringan berkecepatan tinggi.
Perusahaan seperti ST Telemedia Global Data Centres, PT DCI Indonesia Tbk, dan NeutraDC dari Telkom telah mulai menyiapkan kapasitas infrastruktur pusat data yang dirancang khusus untuk kebutuhan AI.
Indosat Ooredoo Hutchison bersama NVIDIA dan mitra lainnya tengah merintis pembangunan AI Factory bernama Zankore dengan target kapasitas mencapai 1 gigawatt dalam kurun waktu tiga tahun ke depan.
Perusahaan AI cloud asal Amerika Serikat, CoreWeave, turut mengumumkan rencana ekspansi ke Indonesia dengan membangun tiga fasilitas pusat data berkapasitas total 360 megawatt yang dijadwalkan beroperasi pada 2028.
Lapisan konektivitas diperkuat melalui pengembangan RAIA Grid oleh PT Infra Fiber Teknologi yang mengintegrasikan lebih dari 86.000 kilometer jaringan fiber dengan teknologi machine learning.
Kementerian Kelautan dan Perikanan juga mendukung ekosistem ini melalui penyiapan empat landing station kabel laut yang tersebar di Jakarta, Nusa Tenggara Timur, Manado, dan Jayapura.
Pengembangan model bahasa besar atau Large Language Model (LLM) nasional bernama Sahabat-AI menjadi langkah konkret dalam melengkapi ekosistem AI yang dibangun oleh konsorsium lokal dengan teknologi NVIDIA.
Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Nezar Patria menyoroti potensi pemanfaatan cadangan pasir silika nasional sebanyak 340 juta ton sebagai material hulu bagi industri semikonduktor.
Head of Research Analis Korea Investment Sekuritas Indonesia Muhammad Wafi memperingatkan bahwa nilai tambah ekonomi terbesar industri AI terletak pada proses pemurnian dan fabrikasi wafer, bukan pada ekspor pasir mentah.
Ketua Indonesia Data Center Provider Organization Hendra Suryakusuma menyarankan perusahaan material nasional untuk bertransformasi menjadi perusahaan teknologi dengan meningkatkan R&D serta memenuhi standar kualitas semikonduktor global.
CEO DCI Indonesia Otto Toto Sugiri menilai Indonesia masih memiliki tantangan dalam hal kemudahan berbisnis, kesiapan pasokan listrik, dan pengembangan sumber daya manusia agar tetap kompetitif dibandingkan negara tetangga.







