Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami tekanan jual pada perdagangan sesi pertama hari Rabu (19/8/2026), ditutup melemah 0,60% ke level 6.411 akibat dominasi sentimen negatif di pasar modal domestik.
Dilansir dari Stockbit Sekuritas, pergerakan indeks dipengaruhi oleh aksi lepas saham oleh investor asing dengan mencatatkan nilai jual bersih atau net foreign sell sebesar Rp 371,31 miliar.
Secara kumulatif, total nilai foreign buy tercatat mencapai Rp 1,73 triliun, sementara nilai foreign sell yang dilakukan oleh investor asing mencapai angka Rp 2,10 triliun.
Koreksi pasar ini tercermin dari catatan perdagangan di Bursa Efek Indonesia (BEI) yang menunjukkan bahwa sebanyak 361 saham mengalami penurunan harga.
Di sisi lain, hanya 233 saham yang mampu mencatatkan penguatan, sementara 191 saham lainnya tetap berada pada posisi stagnan atau tidak bergerak dari harga penutupan sebelumnya.
Data BEI mengonfirmasi bahwa nilai transaksi perdagangan saham hingga jeda makan siang mencapai Rp 7,34 triliun dengan volume transaksi sebesar 21,43 miliar saham.
Frekuensi perdagangan tercatat cukup aktif dengan total 1,30 juta kali transaksi, yang membawa kapitalisasi pasar IHSG berada di angka Rp 11.296 triliun.
Saham PT Astra International Tbk (ASII) menjadi aset dengan nilai penjualan asing tertinggi, yakni mencapai Rp 49,01 miliar.
Selain itu, investor asing juga melepas saham PT Sinergi Inti Andalan Prima Tbk (INET) dengan nilai sebesar Rp 41,34 miliar.
Saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) turut masuk dalam daftar jual asing dengan nilai transaksi mencapai Rp 39,62 miliar.
Berdasarkan sektoral, delapan dari sebelas sektor yang terdaftar di BEI berada di zona merah, dengan sektor energi memimpin penurunan sebesar 1,19%.
Salah satu emiten di sektor energi, PT Darma Henwa Tbk (DEWA), mengalami pelemahan harga sebesar 0,90% menjadi Rp 442 per lembar saham.
Tekanan pasar tidak hanya terjadi di Indonesia, karena seluruh bursa saham di kawasan Asia juga mengalami tren pelemahan yang signifikan.
Indeks Nikkei di Jepang tercatat turun 3,28%, sementara indeks Shanghai Composite di Tiongkok tergelincir 2,17%.
Indeks Straits Times di Singapura melemah 0,30% dan indeks Hang Seng di Hong Kong mencatatkan penurunan sebesar 0,04%.
Di tengah pelemahan indeks, beberapa saham masuk dalam kategori top gainers, yakni PT Kawasan Industri Jababeka Tbk (KIJA) yang naik 10,24% ke Rp 183.
Saham PT Arkora Hydro Tbk (ARKO) dan PT Indosat Tbk (ISAT) juga mencatatkan penguatan masing-masing sebesar 5,77%.
Sebaliknya, daftar top losers dipimpin oleh PT Fast Food Indonesia Tbk (FAST) yang merosot 13,96% ke level Rp 456.
Saham PT Tempo Inti Media Tbk (TMPO) turut terkoreksi 7,53% ke level Rp 172 per lembar saham.
Terakhir, PT Bayan Resources Tbk (BYAN) mencatatkan penurunan harga sebesar 6,95% menjadi Rp 16.075 per lembar saham.






