Berita

Hotspot Karhutla Menurun, Kabut Asap Masih Selimuti Sumatra dan Kalimantan

3
×

Hotspot Karhutla Menurun, Kabut Asap Masih Selimuti Sumatra dan Kalimantan

Sebarkan artikel ini
Kabut asap tebal menyelimuti kawasan hutan dan lahan di wilayah Sumatra dan Kalimantan
Kabut asap masih menyelimuti Sumatra dan Kalimantan meski jumlah hotspot karhutla mengalami penurunan signifikan.

Jakarta – Pemerintah Indonesia tetap melanjutkan operasi pengendalian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) secara intensif meskipun data satelit mencatat penurunan drastis jumlah hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi secara nasional pada Kamis (24/9/2026).

Dilansir dari Kementerian Kehutanan, data SiPongi yang bersumber dari satelit NASA Terra/Aqua, SNPP, dan NOAA-20 menunjukkan jumlah hotspot nasional turun menjadi 344 titik dibandingkan dengan 932 titik pada hari sebelumnya.

Penurunan jumlah hotspot ini tercatat signifikan di enam provinsi prioritas, di mana angka gabungan merosot dari 778 menjadi 206 titik.

Kalimantan Tengah masih menjadi wilayah dengan jumlah hotspot tertinggi yakni 156 titik, diikuti oleh Kalimantan Barat dengan 33 titik dan Kalimantan Selatan dengan 11 titik.

Di wilayah Sumatra, Sumatra Selatan mencatat empat hotspot, Jambi dua hotspot, sementara Riau tetap tidak menunjukkan adanya hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi.

Kepala Biro Hubungan Masyarakat dan Kerja Sama Luar Negeri Kementerian Kehutanan, Ristianto Pribadi, menegaskan bahwa angka hotspot tidak dapat disamakan secara langsung dengan jumlah kejadian kebakaran maupun luas lahan yang terbakar.

“Hotspot merupakan indikasi anomali suhu permukaan yang terdeteksi satelit dan tidak dapat langsung disamakan dengan satu kejadian kebakaran maupun luas area yang terbakar,” kata Ristianto.

Setiap deteksi dari satelit memerlukan verifikasi lapangan atau groundcheck untuk memastikan kondisi aktual di titik lokasi tersebut.

Menteri Kehutanan, Raja Juli Antoni, bersama Kepala BNPB, Letjen TNI Suharyanto, telah meninjau langsung upaya pemadaman di kawasan gambut sekitar Rumah Sakit Jiwa Sambang Lihum, Kalimantan Selatan.

Operasi pada lahan gambut menjadi fokus utama karena bara api dapat bertahan di bawah permukaan tanah meskipun api di permukaan telah terlihat padam.

“Pembasahan dan pendinginan karena itu terus dilakukan untuk mencegah munculnya kembali api,” kata Ristianto.

Pemerintah mengerahkan 61 unit armada udara, dengan rincian 17 unit untuk patroli dan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) serta 44 unit untuk water bombing.

Di darat, tim gabungan yang terdiri dari Manggala Agni, BNPB, TNI, Polri, BPBD, serta unsur masyarakat tetap melakukan pemadaman langsung, penyekatan, dan pendinginan.

Meskipun hotspot berkurang, kualitas udara di sejumlah wilayah seperti Palangka Raya dan Pontianak masih terpantau buruk dengan jarak pandang terbatas sekitar 1,5 kilometer.

Kondisi berasap yang masih menyelimuti wilayah terdampak menunjukkan bahwa penurunan titik panas belum menjamin pemulihan kualitas udara secara instan.

“Kondisi tersebut menunjukkan bahwa penurunan jumlah hotspot belum berarti seluruh kebakaran telah padam atau kualitas udara langsung pulih,” kata Ristianto.

Masyarakat diimbau untuk selalu memantau informasi kualitas udara dan mengenakan masker saat beraktivitas di luar ruangan jika kondisi udara memburuk.

Pemerintah menekankan perlunya memberikan perlindungan khusus bagi kelompok rentan, termasuk anak-anak, ibu hamil, lanjut usia, serta penderita penyakit pernapasan.

Seluruh pelaku usaha dan masyarakat dilarang keras membuka lahan dengan cara membakar demi mencegah eskalasi kebakaran lebih lanjut.

Setiap pihak diminta untuk segera melaporkan temuan asap, titik api, atau aktivitas pembakaran mencurigakan kepada otoritas setempat.

Operasi pengendalian karhutla akan terus dijalankan secara penuh hingga kondisi di lapangan benar-benar dinyatakan aman dari ancaman api dan asap.