Berita

Karhutla Gunung Semeru Padam, 3.072 Hektare Lahan Terdampak

4
×

Karhutla Gunung Semeru Padam, 3.072 Hektare Lahan Terdampak

Sebarkan artikel ini
Petugas gabungan memantau kawasan lahan yang terdampak kebakaran di lereng Gunung Semeru
Petugas gabungan resmi mengakhiri operasi pemadaman kebakaran hutan dan lahan di kawasan Gunung Semeru.

Lumajang – Petugas gabungan telah menyatakan penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Gunung Semeru resmi berakhir pada Senin (7/9/2026) setelah seluruh titik api berhasil dipadamkan melalui operasi darat dan udara.

Dilansir dari jatim.jpnn.com, kegiatan pemadaman yang melibatkan berbagai instansi ini dinyatakan selesai karena tidak lagi ditemukan adanya sumber api di area terdampak.

Kepala Pelaksana BPBD Lumajang, Isnugroho, mengonfirmasi bahwa kendali pemantauan wilayah kini diserahkan sepenuhnya kepada pihak Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS).

“Kami berkoordinasi dengan Seksi PTN Wilayah III TNBTS Ranupani di Lumajang karena kegiatan dinyatakan selesai dan selanjutnya akan dilaksanakan patroli oleh pihak TNBTS,” kata Isnugroho.

Data dari TNBTS mencatat akumulasi luas lahan yang terbakar hingga awal bulan mencapai 3.072 hektare, sementara kalkulasi akhir pasca-pemadaman masih dalam proses perhitungan petugas di lapangan.

Distribusi area terdampak mencakup Blok Dingklik, Pacis Bincil, Kedaluh, dan Penanjakan dengan total luasan mencapai 211,24 hektare.

Kawasan Bantengan, Watangan, Jantur, dan B29 tercatat mengalami kerusakan akibat api seluas 881,78 hektare.

Area dengan dampak terluas dilaporkan berada di sekitar Ranu Kumbolo yang mencapai luasan 1.887 hektare.

“Luas yang terbakar tersebar di beberapa lokasi, di antaranya di Blok Dingklik, Pacis Bincil, Kedaluh, Penanjakan sebanyak 211,24 hektare, kemudian di Bantengan, Watangan, Jantur, dan B29 seluas 881,78 hektare, dan dampak karhutla yang terluas berada di Ranu Kumbolo dan sekitarnya mencapai 1.887 hektare,” kata Isnugroho.

Tim gabungan hingga saat ini masih melakukan proses penghitungan detail di Blok Krepelan, Desa Ranupani, untuk memastikan total luas lahan yang terdampak secara keseluruhan.

Petugas sebelumnya telah melakukan upaya penyisiran serta pembasahan intensif di Blok Krepelan menggunakan peralatan khusus berupa jet shooter dan blower.

Tim Reaksi Cepat (TRC) BPBD Lumajang juga telah melakukan pemantauan jalur pendakian hingga Pos 2 untuk memastikan tidak ada kemunculan titik api baru.

Operasi penanganan ini melibatkan kolaborasi lintas sektoral antara TNBTS, Dalkarhutla Manggala Agni, BPBD Jawa Timur, BPBD Kabupaten Lumajang, Polsek Senduro, Koramil Senduro, ABI Jatim, Masyarakat Peduli Api (MPA), serta Kementerian Kehutanan.

Situasi di lapangan kini mulai membaik seiring dengan turunnya hujan di sejumlah wilayah seperti Kecamatan Pronojiwo dan kawasan Kota Lumajang.

Curah hujan tersebut diharapkan dapat mempercepat proses pemulihan ekosistem hutan sekaligus menekan risiko kemunculan kembali titik api di kawasan konservasi tersebut.